Oleh : Sudirta Lasabuda
Masyarakat Bolaang Mongondow Timur Provinsi Sulawesi Utara begitu antusias mempelajari gerakan tarian dana-dana belakangan ini. Pejabat Daerah dan masyarakat begitu membaur.
Asyik,,
Menghidupkan kembali tarian kebudayaan lewat suatu perayaan hari jadi Daerah itu langka, apalagi kalau tidak tertata dengan baik pengaturannya.
Mendorong anak-anak usia sekolah setingkat SD dan SMP untuk belajar tarian, itu upaya memperkenalkan kebudayaan sejak dini. Orang tua yang baru mau belajar mengenal budaya daerahnya, itu Ajaib, aneh tapi nyata.
Memperkenalkan adat istiadat dan budaya di era modern seperti sekarang ini, seperti menjadi tantangan tersendiri. Mustahil bertahan lama tapi setidaknya bisa dijadikan bahan pengingat bahwa mengenal identitas itu penting.
Dari sederet langka yang (entah dikatakan sebagai pengenalan atau menghidupkan lagi adat istiadat dan budaya di tanah Bolaang Mongondow ini lewat tarian daerah) diambil dan dilaksanakan dengan penuh antusias untuk menyemarakkan hari lahirnya daerah tercinta ini.
Harapannya, semoga pelaksanaannya berjalan dengan baik dan lancar, serta betul-betul dilestarikan. Kalau perlu dijiwai, biar menjadi kian asyik.
Ide ini hebat tentunya, luar biasa serunya, dan yang perancangnya pun hingga menjadi ramai dikalangan masyarakat benar-benar hebat. Itu sudah merupakan pencapaian tersendiri bagi perancangnya. Yakni bagaimana dari langka-langka itu, mulai dari gerakan tariannya, musiknya, serta alat musiknya dimunculkan kesan bahwa Identitas Kemongondowan itu masih sangat kental.
Pun sampai seorang Bupati dan para pejabat seteras Forkopimda turun langsung berbaur dengan masyarakat melakukan tarian adat dana-dana yang diiringi music khas identik degan petikan gambus. Dan kalau memang tujuannya seperti itu, maka ide dan rancangan Kabela Fest ini berhasil sekali.
Pencetus ide layak dapat reward. Demikian juga dengan mereka yang telah bersedia memberikan pelatihan kepada masyarakat yang ingin mengenal dan atau menghidupkan lagi Identitas Daerahnya.
Rasanya, saya sebagai putra daerah, mongondow tulen, bangga kepada semua orang yang kini mulai bisa beradaptasi dengan Identitas Kemongondowannya yang dulu nyaris punah.
Kenapa beradaptasi? Ini adalah hal fundamental yang perlu saya kemukakan agar tidak memunculkan multitafsir bagi para pembaca. Tentunya, suasana kebatinan kita pasti berbeda dengan kita yang lain. Dan itu akan memengaruhi suasana kebatinan berikutnya setelah kita dan kita melihat realita saat ini yang di semua tempat di daerah ini, ramai dengan Latihan tarian adat dana-dana untuk menyemarakkan hari jadi daerah.
Kesan umum yang muncul: paling-paling usai pelaksanaan HUT daerah, hilang lagi, punah lagi. Sebab kebiasaan di daerah ini, segala sesuatu semangatnya cuma diawalnya saja. Nah, bagaimana pendapat kalian ketika mendapati kesan-kesan seperti itu?
Saya pernah mencoba membuat kegiatan yang serupa, bekerjasama dengan beberapa teman yang satu visi dan misi, melibatkan teman lain yang beda aliran, umumnya mereka mengatakan “Sulit dilestarikan”. Apalagi belum tersedianya fasilitas pendukung sebagai pusat pelatian dan kurangnya perhatian pihak terkait.
Tapi pendapat bukanlah cermin berhasil atau tidaknya suatu hal. Pendapat lebih mencerminkan emosi atau ego.
Namun apapun itu, Identitas daerah mesti tetap dihidupkan, dikenalkan dan yang paling penting harus dijiwai. Tak perlu gengsi, harus bangga.
Sebab, banyak cara untuk melestarikan adat dan budaya daerah sebagai Identitas, salah satunya, jangan pernah ragu untuk memperkenalkannya ke luar daerah.
Apalagi kalau Bupati Boltim telah memberikan respon baik lewat festival kabela yang tidak lama lagi pelaksanaannya.
Semoga acara atau kegiatan ini bisa menjadikan Boltim sebagai salah satu Daerah yang patut dicontoh, karena telah berupaya mengangkat dan menghidupkan Kembali adat dan budaya yang merupakan Identitas Ke-mongondow-an di tanah para Bogani.












