Sudah 17 Tahun berlalu sejak Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) menjadi sebuah Daerah Otonomi Baru pada tahun 2008 silam. Hari itu tentu saja jadi momentum penting bagi Boltim dan para penggagas serta pencetusnya setelah melewati episode panjang.
Pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke 17 Boltim tahun ini, gegap gempita menyambut hari lahir itu tak pernah surut, meski sebenarnya sudah pernah dirayakan pada tahun-tahun sebelumnya, hampir seluruh rakyat Boltim bahagia (tak sedikit pula yang kurang mendukung barangkali) saat menyambut dengan hore hari kelahiran Daerah ini.
Berbagai kegiatan terus diagendakan dalam rangka mengisi peringatan HUT Boltim, mulai dari pesta rakyat, upacara bendera, pawai serta perlombaan dan lain-lain menjadi aktivitas “wajib” yang berulang kali dilaksanakan oleh pemerintah daerah, bahkan kalau saya tak salah tebak, diinstruksikan juga sampai ke sekolah, masyarakat dan kantor-kantor pemerintahan.
HUT ke 17 Boltim kali ini mengangkat tema “Kerja Bersama Untuk Boltim Bangkit”, sebuah kalimat yang sekilas menekankan bahwa, kerja sama bukan hanya bekerja bersama, tetapi juga memiliki tujuan yang sama, yang ingin dicapai oleh semua warga masyarakat secara keseluruhan.
Kemudian, kata “Bangkit” sendiri dalam tema tersebut menurut pandangan saya, memberi makna yang sangat luas dan berkaitan dengan perubahan positif dari suatu keadaan yang kurang baik ke keadaan yang lebih baik, baik secara mental, fisik, maupun sosial.
Saya sepakat dan sangat setuju kalau ada anggapan, bahwa tema yang diangkat pada perayaan HUT Boltim kali ini sangat sederhana namun sarat makna. Saya juga berharap tema tersebut dapat menjadi Starting Point dan Spirit of Construction dalam bingkai persaudaraan, kebersamaan yang kokoh, kuat tak tercerai berai bagi rakyat Boltim untuk merajut kembali asa, masa dan rasa pasca Pilkada 2024 yang sempat merenggang.
Lalu, dalam sesaat yang panjang, ditengah orang-orang sedang riuh beriaan menyambut pesta HUT Boltim ini, saya justru berfikir (meski bukan tugas saya namun menjadi bagian dari tanggungjawab pribadi sebagai warga masyarakat Boltim) bagaimana nasib negeri seribu danau saat ini? Benarkah Daerah ini begitu jatuh, terpuruk, tenggelam atau merosot hingga harus Bangkit, bangun dari tidur panjang atau hidup kembali? Apakah kemajuan dan perkembangan Boltim selama ini hanya seremonial dan impi belaka yang dirasakan sebagian orang atau kelompok tertentu? Mari sejenak kita refleksikan HUT 17 tahun Boltim, apa yang masih kurang dan apa yang perlu dibenahi.
Setidaknya saya punya beberapa hal yang mungkin bisa menjadi catatan penting bagi Pemerintah Daerah saat ini untuk dapat bertindak dan memberikan perhatian serius. Ini juga termasuk bagian dari refleksi di HUT ke 17 Boltim.
Seperti yang pembaca ketahui bersama, sejak Boltim dinobatkan hingga berdiri dan terbentuk sebagai suatu Daerah Otonomi Baru, persoalan TPA telah menjadi masalah serius dan sulit dientaskan, padahal wacana ini sudah mulai bergulir pada masa pemerintahan Bupati Sehan Landjar sebagai pemimpin daerah selama dua periode pada kurun waktu sekitar 15 tahun lalu dan kemudian dilanjutkan oleh Sam Sachrul Mamonto selama satu periode, ternyata belum juga membuahkan hasil.
Entah kurang serius atau memang tidak serius, stigma semena-mena ini cukup memungkinkan dianggap sebagai jawaban selama belum adanya tanda sekalipun hanya sekadar penentuan titik lokasi TPA di Boltim, toh kenyataannya memang begitu.
Bukankah suatu ironi, disaat beberapa Daerah di seantero Indonesia sedang berlomba-lomba melakukan berbagai cara terhadap penanganan sampah, bahkan ada sejumlah Daerah telah berhasil meningkatkan PAD melalui proses pengolahan sampah, termasuk bisa mencipta peluang rupiah bagi rakyatnya dari hasil pengolahan sampah, mengapa di Boltim justru hanya berkutat pada penentuan lokasi atau tempat pembuangan sampah? Lebih dari satu dekade pula? Is this a joke?
Tentu saja kita tidak sedang berada di wilayah abu-abu hingga tak bisa membedakan mana alasan, dan bagaimana cara berkilah kan?
Rasanya, sudah cukup membuat kuping saya menderita gatal-gatal level akut ketika mendengarkan kalimat seperti: “terkendala pembebasan lahan”, “anggaran kurang”, atau “masih sementara diperjuangkan”.
Namun, patut diapresiasi, saat boltim menginjak 17 tahun usianya, bersamaan dengan itu pemimpin daerah juga telah berganti, info baik datang. Bahwa mengenai persoalan TPA di Boltim mulai tampak ada perkembangan yang menjanjikan.
Disebutkan, Pemerintah kini sedang memperjuangkan lokasi TPA itu melalui Badan Pertanahan Nasional (BPN). Dikatakan pula bahwa lokasinya berada di lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) Lonsiou Desa Motongkad Kecamatan Motongkad. Demikian sepenggal ulasan yang termuat di salah satu media online di Sulawesi Utara.
Selain keberadaan lokasi TPA yang katanya sedang diperjuangkan ini, Boltim menurut saya juga kurang berhasil di segala sektor kehidupan (setidaknya dalam kurun waktu 15 tahun terakhir).
Pada sektor Pendidikan, Daerah ini menurut pendapat saya termasuk kurang optimal (lebih tepatnya tidak mampu) melakukan pemerataan tenaga pendidik, memberi ruang seluas-luasnya bagi siswa atau pelajar, menyediakan fasilitas, sarana dan prasarana pendukung pendidikan bagi seluruh rakyatnya. Kalaupun ada, hanya terbuka kepada kelompok yang punya koneksi (orang dalam) atau golongan tertentu.
Banyak problem yang ruwet muncul dalam bidang pendidikan, seperti; akses pendidikan yang begitu sulit terjangkau di beberapa wilayah termasuk sistem zonasi, perkara TKD guru tingkat SD dan SMP yang kemarin sempat tertunda, pernah juga ada kasus oknum guru yang bermain proyek pengadaan fasilitas dan sarana pendukung pendidikan. Untungnya mulai berkurang generasi yang gemar melakukan Bullying dan sebagainya.
Pada aspek sosial, nah ini paling kompleks, apalagi tiap kali pasca Pilkada (sejak periode pertama hingga kini) begitu kentara siapa lawan dan siapa kawan. Tak bisa dielakkan bahwa jurang perselisihan dan perbedaan pilihan antara kelompok yang berseberangan ini menganga lebar, alih-alih berkompromi, mereka malah bertentangan dan terkadang sulit didamaikan.
Mirisnya, mereka yang menang kian belagu, sedangkan pihak kalah makin terbawa suasana, hingga pada gilirannya, bermusuhan nyaris tanpa akhir.
Ini hanya bagian kecil kekacauan yang terjadi pada beberapa aspek. Tapi jika dibiarkan dan tidak ditangani secara serius, bisa jadi dapat memicu resiko besar, dampaknya proses pembangunan daerah bakal menemui hambatan.
Disisi lain, transisi dan peralihan kepemimpinan seorang pemimpin daerah bukanlah sesuatu yang mudah dijalani, dibutuhkan mental yang cukup kepekaan yang mempuni agar tidak mudah dimanipulasi sekelompok orang. Ini juga butuh proses bahkan untuk sekadar menyesuaikan.
Maka, merefleksi HUT ke-17 Boltim, merupakan kesempatan baik, apa saja gagasan besar yang menjadi bagian dari cita-cita Daerah untuk menuju Indonesia emas atau setidaknya mewujudkan harapan Boltim Bangkit yang benar-benar Bangkit secara substansi bukan hanya seremonial belaka.
Tapi, saya percaya masih ada harapan yang bisa memperkuat dan memperteguh keyakinan kita sebagai warga, masyarakat dan rakyat Boltim, bahwa di tangan pemimpin jujur dan benar-benar ingin membangun daerah, Boltim bisa Bangkit secara hakiki, menjadi kuat, inovatif, kreatif dan mandiri serta sejahtera bersama rakyatnya.
Sebagai warga Boltim tulen dan suku Mongondow paten, saya pribadi meyakini pasti ada banyak perubahan yang akan terjadi kedepan. Tentu itu semua tergantung dari kolaborasi, kerjasama, sinergitas antara Pemimpin dan yang dipimpin.
Bukankah semua orang punya harapan serupa? menginginkan hal-hal baik dan bermanfaat bagi dirinya pribadi secara khusus, dan Daerahnya tentu saja, apalagi seorang pemimpin daerah, tak diragukan lagi juga berlaku hal yang sama.
Namun, jangan sampai di usia yang telah menginjak remaja menuju dewasa ini, Boltim cuma bisa memberi tontonan lucu menggemaskan hingga membikin rakyatnya geleng-geleng kepala tanpa ada hal baru. Itu sama halnya dengan hanya berganti baju tapi tetap memakai jubah neoimperialisme.
Jangan pula adopsi gaya lama yang tetap bercokol, kecuali ada kopi yang lengkap dengan kepulan asap di udara, saya bersedia datang dimanapun, kapanpun, dan dalam kondisi bagaimanapun, jika mendapat undangan.
Sekali lagi, Selamat Hari Raya Usia ke 17 Tahun Boltimku Tertjintah.
Teruslah Kerja Bersama atau Bekerja Sama untuk Boltim Bangkit.
Merdeka, Merdeka, Merdeka . . .













