Sejarah dan perkembangan Kabupaten Bantaeng, dari Bantayan ke Butta Toa

Kantor Bupati Bantaeng (Foto: Ist)

Bantaeng, aksaranews.com — Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan, yang kini dikenal sebagai daerah dengan julukan Butta Toa (tanah leluhur), memiliki sejarah yang panjang dan penuh makna.

Pada awalnya, Bantaeng dikenal dengan nama “Bantayan”, yang kemudian berubah menjadi “Bhontain” sebelum akhirnya berganti nama menjadi Bantaeng pada 22 Januari 1962, berdasarkan Keputusan DPRD-GR Kabupaten Bantaeng Nomor 1/Kpts/DPRD-GR/I/1962.

Nama “Bantayan” sendiri berasal dari kata “bantayan”, yang merujuk pada tempat pemotongan sapi atau kerbau untuk menyambut utusan kerajaan Singosari dan Majapahit pada abad XII dan XIII.

Nama tersebut menggambarkan peran daerah ini sebagai tempat perjamuan dan penghormatan terhadap penguasa besar saat itu.

Asal Usul Bantaeng dalam Sejarah Nusantara

Bantaeng bukan hanya sebuah nama, tetapi juga sebuah simbol sejarah. Pada abad ke-13, ketika kerajaan-kerajaan besar seperti Singosari dan Majapahit mulai memperluas kekuasaannya ke wilayah timur Nusantara, Bantaeng memainkan peran penting.

Daerah ini adalah tempat di mana utusan-utusan kerajaan tersebut disambut dengan adat istiadat dan upacara tertentu, termasuk pemotongan hewan sebagai bentuk penghormatan.

Menurut catatan sejarah, Bantaeng diakui sebagai daerah yang telah ada sejak 7 Desember 1254, sebagaimana disebutkan dalam keputusan Musyawarah Besar Kerukunan Keluarga Bantaeng (KKB) pada 24 Juli 1999.

Perjalanan Menuju Pembentukan Kabupaten Bantaeng

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959, status Bantaeng yang sebelumnya merupakan sebuah daerah Afdeeling (bagian dari pemerintahan Hindia Belanda) berubah menjadi Kabupaten Daerah Tingkat II Bantaeng.

Seiring dengan kemerdekaan Indonesia dan pembentukan wilayah administrasi baru, nama “Bonthain” akhirnya diganti menjadi “Bantaeng” untuk mencerminkan semangat kemerdekaan, menghapus pengaruh kolonial Belanda.

Pada 1 Februari 1960, Bantaeng resmi menjadi kabupaten dengan pelantikan Bupati pertama, A. Rivai Bulu, oleh Gubernur Sulawesi Selatan.

Sejak saat itu, Bantaeng terus berkembang, meskipun melalui sejumlah perubahan administrasi hingga akhirnya menjadi kabupaten otonom pada era reformasi.

Geografi dan Potensi Alam Kabupaten Bantaeng

Kabupaten Bantaeng terletak sekitar 125 km di selatan Kota Makassar, dengan luas wilayah 395,83 km². Wilayah ini dibagi menjadi 8 kecamatan, 46 desa, dan 21 kelurahan, serta memiliki potensi alam yang luar biasa.

Di bagian utara, terdapat pegunungan Lompobattang yang tinggi, sedangkan di bagian selatan, pesisir pantai dan dataran rendah menjadi andalan bagi sektor pertanian dan perikanan.

Sebagian besar penduduk Bantaeng berprofesi sebagai petani, dengan produk unggulan berupa kentang, wortel, kool, serta buah-buahan seperti pisang dan mangga.

Selain pertanian, sektor industri juga berkembang pesat dengan adanya industri kecil seperti pembuatan gula merah, anyaman bambu, dan perabotan kayu yang mendukung perekonomian daerah ini.

Wisata Alam dan Sejarah Bantaeng

Selain dikenal dengan sejarah panjangnya, Bantaeng juga menawarkan berbagai destinasi wisata yang memukau. Salah satunya adalah Gua Batu Ejayya, yang terletak di Desa Bonto Marannu, Kecamatan Uluere.

Gua ini terkenal karena formasi batu kapurnya yang unik dan dipercaya memiliki nilai sejarah yang tinggi, termasuk ditemukannya alat-alat batu kuno pada tahun 1937 oleh arkeolog Belanda, Van Stein Callonfols.

Tak kalah menarik, Kompleks Makam Raja-Raja Bantaeng yang terletak di kawasan Lembang Cina, Keurahan Pallantikang, menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.

Di kompleks ini, pengunjung dapat melihat lebih dari 150 makam raja-raja yang berasal dari keluarga bangsawan Bantaeng, termasuk La Tenri Ruwa, yang terkenal sebagai tokoh yang memeluk agama Islam dan memimpin Bantaeng pada abad ke-16.

Bantaeng juga dikenal dengan pantainya yang indah. Salah satunya adalah Pantai Pasir Putih di Desa Baruga, yang menawarkan suasana tenang dan pemandangan laut yang menawan.

Di sini, pengunjung dapat menikmati kegiatan berjemur, berenang, atau sekadar bersantai sambil menikmati senja.

"Mau Berita Terbaru Lainnya dari aksaranews.com? Yuk Follow Kami di Google News"