Ternate, aksaranews.com — Saya masih ingat betul hari itu—awan bergelayut di atas Kota Ternate, matahari belum sepenuhnya tinggi, dan angin pagi meniup pelan aroma rempah dari perbukitan.
Adik perempuan saya mengajak kami sekeluarga naik ke sebuah tempat yang katanya “lagi hits di kalangan anak muda”. Namanya: Taman Love Moya, Kota Ternate.
Awalnya saya pikir ini hanya tempat foto biasa dan lokasinya tidak jauh dari pusat kota atau hanya di dataran rendah, ternyata perlu mendaki untuk mencapai Taman Love Moya.
Tapi terbayar sudah, begitu kaki saya menginjak tanahnya—di ketinggian lebih dari 720 meter dari permukaan laut (mdpl) di lereng Gunung Gamalama—saya langsung paham kenapa tempat ini dinamakan Taman Love.
Rasanya… saya benar-benar jatuh cinta.

Hari itu, kami naik bersembilan. Termasuk dua anak saya yang masih kecil—Numa, usia 2 tahun 8 bulan, dan Nawaksara, 5 tahun. Sungguh bukan perjalanan mudah, apalagi bagi anak-anak.
Numa saya gendong sepanjang jalan, karena medannya cukup terjal dan tentu belum sanggup ia lalui sendiri. Tapi Nawaksara, dengan semangat luar biasa, menapaki jalan demi jalan tanpa lelah.
Entah bagaimana, semangatnya justru menyemangati kami semua. Ia seperti menikmati setiap langkahnya, menyapa daun, bebatuan, dan tertawa saat melihat awan menyentuh pucuk pohon.
Ini bukan hanya pendakian pertama bagi mereka, tapi juga pendakian pertama saya sejak meninggalkan Ternate pada tahun 2002—saat saya hijrah ke Manado untuk menempuh studi SMP hingga kuliah.
Dulu, saat kami ingin menikmati pemandangan Ternate dari ketinggian, lokasi “pemancar” atau tower di lereng Gamalama adalah titik tertinggi yang bisa kami capai.

Tapi kini, dua dekade kemudian, Ternate telah berubah. Penduduknya bertambah, kota makin padat, dan “pemancar” tak lagi jadi batas terakhir.
Taman Love hadir lebih tinggi dari titik itu—memberi sudut pandang baru atas kota dan masa lalu saya sendiri.
Begitu sampai di Taman Love, semua lelah seperti menguap. Di depan kami terhampar panorama lima pulau: Maitara, Tidore, Moti, Makian, dan Halmahera.
Laut Maluku seperti kaca, tenang dan luas. Saya terdiam cukup lama, menggendong Numa di pangkuan, sementara Nawaksara duduk di kursi bambu sambil mengunyah kue dan menatap cakrawala.

Taman Love bukan hanya soal spot foto dan estetika. Ada gazebo-gazebo sederhana, jembatan bambu, dan udara sejuk yang memeluk tubuh.
Bagi saya pribadi, tempat ini jadi ruang kontemplasi—melihat keindahan hari ini dan mengenang jalan hidup yang telah saya lalui.
Saat perjalanan turun, kelelahan mulai terasa. Apalagi bagi istri saya, sepupu, dan keponakan yang semuanya baru pertama kali naik ke kaki Gunung Gamalama.
Kami sempat tertawa bersama karena mereka semua mengeluhkan hal yang sama: pegal-pegal yang tidak biasa. Tapi itulah kenang-kenangan manis dari Taman Love—rasa pegal yang penuh cerita.

Saya sendiri merasa seperti pulang. Bukan hanya pulang secara geografis ke Ternate, tapi juga pulang secara batin—kembali menyatu dengan tanah kelahiran, dan memperkenalkannya pada anak-anak saya.
Taman Love Moya bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang sunyi di antara riuhnya hidup. Tempat yang memungkinkan kita melihat jauh ke luar, dan juga ke dalam.
Di sana, saya melihat Ternate dari sudut yang belum pernah saya lihat. Tapi yang lebih penting, saya melihat kembali bagian dari diri saya yang sudah lama tertinggal.

Hari itu, saya jatuh cinta. Pada Ternate. Pada perjalanan. Pada momen kebersamaan sederhana yang begitu berarti.
Dan untuk semua yang mungkin belum pernah ke sana:
Naiklah ke Taman Love, dan biarkan dirimu jatuh cinta juga.













