Manado, aksaranews.com — Nama Rania Riris Ismail menjadi perbincangan usai masuk jajaran Komisaris Bank Sulawesi Utara dan Gorontalo (BSG) hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar Selasa di Kantor Pusat BSG, Jalan Pierre Tendean (Boulevard), Manado (10/2/2026).
Sosok yang dikenal sebagai menantu Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, itu masuk dalam jajaran Komisaris hasil RUPS Luar Biasa Tahun 2026.
RUPS berlangsung di Kantor Pusat BSG, Jalan Pierre Tendean, Boulevard Manado, dan dihadiri para kepala daerah pemegang saham dari Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo.
Agenda rapat terasa intens karena bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan pengurus BSG periode 2021–2026.
Sebelumnya, susunan Dewan Komisaris BSG periode 2021–2026 diisi oleh Ramoy Markus Luntungan sebagai Komisaris Utama. Adapun Komisaris Independen dijabat Djafar Alkatiri, Jacklyn Koloay, dan Sam Sachrul Mamonto. Selain itu, Max Kembuan, perwakilan PT Mega Corpora, menjabat sebagai Komisaris Independen.
Dalam RUPS 2026, pemegang saham menyepakati perubahan komposisi Dewan Komisaris. Komisaris Utama (Independen) kini dijabat Godbless Sofcar Vicky Lumentut.
Sementara posisi Komisaris Independen diisi Jacklien Koloay, Rania Riris Ismail, dan Djafar Alkatiri. Adapun Diane ND dan Max Kembuan ditetapkan sebagai Komisaris.
Masuknya Rania Riris Ismail disebut sebagai bentuk penguatan keterwakilan Provinsi Gorontalo dalam struktur pengawasan bank.
Sebagai bank milik bersama dua provinsi, keseimbangan representasi pemegang saham menjadi perhatian utama dalam setiap perombakan pengurus.
RUPS kali ini juga menandai berakhirnya keterlibatan Ramoy Markus Luntungan dan Sam Sachrul Mamonto di jajaran Komisaris. Hilangnya nama Sam Sachrul Mamonto sebagai tokoh Bolaang Mongondow Raya itu turut memunculkan berbagai spekulasi di ruang publik.
Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling, menjelaskan bahwa RUPS terdiri dari dua agenda utama, yakni evaluasi kinerja pengurus lama dan RUPS Luar Biasa (RUPS-LB) untuk perubahan struktur pengurus.
“Kesepakatan walaupun penambahan personil tetap penganggarannya tidak berubah, kalau 5 yang lalu denga anggaran 6 orang sekarang nilainya sama, tilak ada masalah soap penggajian,” ujar Yulius.
Ia menambahkan, pemegang saham kabupaten dan kota juga diberi kewenangan lebih besar terhadap cabang BSG di wilayah masing-masing.
“Kita sepakat pemegang saham di daerah juga punya kewenangan mengatur keuangan dan kemajuan BSG yang ada di wilayah masing-masing,” katanya.
Terkait target kinerja, Yulius optimistis jajaran baru mampu melampaui capaian sebelumnya.
“Target untuk Komisaris dan direksi yang baru bahwa seperti tahun 2025 kita Sudan tercapai Rp 400 miliar luar brasa, semoga pada tahun 2026 target bisa capai Rp 500 miliar. Mudah-mudahan dengan semangat baru ini sepertinya bisa tercapai,” tutupnya.













