Menurut Albert Camus, hidup manusia itu absurd. Artinya di satu sisi manusia hidup cenderung mengarah atau menuju pada masa depan, sementara disisi lain, masa depan itu sendiri makin mendekatkan manusia pada kematian (dalam konteks ini, kita sepakat merujuk pada kematian karakter). Maka tidak mengherankan manusia sering kali bersikap apa yang disebut Camus “melarikan diri”, atau dengan kata lain melakukan “salto”, menenggelamkan diri pada keyakinan atau ideologi tertentu atau “bunuh diri”.
Berangkat dari pandangannya tentang absurditas hidup manusia, Camus memperkenalkan filsafat absurdnya lewat tulisan esai Sisifus, tokoh dalam mitologi Yunani yang dikutuk mengulang tugas sia-sia selamanya untuk mendorong sebuah batu ke puncak gunung yang pada akhirnya batu itu bergulir jatuh kembali.
Esai ini diterbitkan dalam bahasa Prancis dengan judul Le Mythe de Sisyphe (1942) yang terdiri sekitar 120 halaman, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Justin O’Brien (1955).
Dalam esai ini, Camus mengemukakan, bahwa realisasi tentang yang absurd tidak harus disikapi dengan cara menenggelamkan diri atau bunuh diri, meski manusia belum (lebih tepatnya tidak) menemukan kesatuan dan kejelasan dalam menghadapi dunia yang cenderung sulit dipahami. Ia kemudian membuka diri dan mencoba sejumlah pendekatan terhadap kehidupan absurd, hingga pada gilirannya melakukan perbandingan absurditas kehidupan manusia dengan situasi yang dialami Sisifus.
Namun apapun dan bagaimanapun absurditas hidup manusia yang dipahami oleh seorang filsuf, penulis, dan jurnalis asal Prancis itu, ia tetap menawarkan solusi.
Lantas, apa solusi yang ditawarkan oleh peraih hadiah Nobel Sastra 1957, termuda kedua dalam sejarah itu?
Adalah melakukan pemberontakan atau perlawanan atas hidup (revolt). Hal ini dimaksudkannya agar manusia dapat menghadapi hidup dengan gagah berani dan tak perlu takut terhadap bahaya “kematian karakter” yang bisa datang kapan saja, dimana saja, dan dari siapa saja tanpa kita ketahui.
Dalam esai ini Camus menyimpulkan, bahwa memberontak dan melawan adalah bagian dari perjuangan. Dan perjuangan itu sendiri, sudah cukup mengisi dan memuaskan hati manusia. Olehnya, membayangkan bahwa Sisifus berbahagia adalah suatu keharusan.
Tanpa bermaksud mengesampingkan karya-karya Camus lainnya seperti drama Caligula (1945), novel Orang Asing (1942) dan khususnya esai Sang Pemberontak (1951), yang diselesaikan pada tahun 1960 sebelum kecelakaan mobil yang menyebabkan kematiannya. Mitos Sisifus saya kira lebih menarik dibaca pun dipahami, terutama mengenai persoalan “kematian karakter” yang mulai mewabah di sekitar kita saat ini.
Perlu diketahui, saya tak hendak membandingkan situasi yang dialami Sisifus dengan sebagian besar orang-orang di negeri ini yang saya perhatikan telah mengalami “kematian karakter” nya, tapi masih tetap bangga berada di posisi kalah ketimbang belajar dari kekalahan, dan lebih parah lagi, kurang peka menyadari diri secara utuh.
Sebab, seperti yang pernah dituliskan Katamsi Ginano disalah satu tulisan dalam Blognya; bahwa tak adil menyandingkan apel dan jeruk: Kecuali mempertanyakan mengapa orang, bangsa, dan negara lain mampu menumbuhkan apel yang subur, semarak buah, dan manis-gurih; sementara kita terseok-seok bahkan sekedar menjadikan buah sepokok jeruk nipis benar-benar asam dan memadai sebagai peyedap kuah soto?
Memang menyandingkan apel dan jeruk sebagai buah secara de facto dalam bentuk aslinya adalah sebuah ketidakadilan yang hakiki. Sama tidak adilnya kita membandingkan rasa dan warnanya. Namun, selama kita mampu memberikan perlakuan yang baik mulai dari pembibitan, penanaman, pertumbuhan hingga masuk pada masa panen, bukan tidak mungkin peluang mendapatkan hasil yang bagus bisa kita dapatkan.
Sambil melarutkan diri dengan secangkir kopi, kepulan asap sisa pembakaran di halaman rumah, alunan musik tetangga terdengar membuai kuping dan jiwa, dihari di mana suasana khas pedesaan masih terasa kental, adalah ”kebahagiaan kecil” yang segenap hati coba saya sesap. Setidaknya membiarkan beberapa jenak segala hal keredaksian senyap, dan tetek-bengek masalah dalam hidup lainnya yang tiap hari menyerbu seluruh raga, jiwa bahkan batin menyurut.
Tiba-tiba, saya kedatangan kawan-kawan (orang-orang mongondow juga) yang sebagian akrab, dan sebagian lainnya baru kenal saat diajak kenalan. Saya bersyukur dapat mengenal banyak kawan, apalagi kawan yang bisa diajak diskusi tentang berbagai hal, mulai dari yang bikin galau, sesak dada, susah tidur, darah tinggi, gula darah, kolestrol hingga hal yang tak jarang berpotensi bikin pendengarnya mengalami gangguan jiwa.
Untuk sesaat yang panjang, saya tenggelam mendengarkan percakapan ringan dan sedikit lelucon yang (seringkali dibumbui dengan loleke khas Mongondow) bahagia juga ngeri, kadang mengundang gelak tawa.
Selain memperhatikan, saya juga berusaha menjadi pendengar yang baik. Sebab, tentang hidup dan cara berpikir, kita tentu punya tingkatannya masing-masing. Saya pun masih terus-menerus belajar, dan pada kawan-kawan inilah saya belajar tentang hidup serta segala aspeknya, termasuk berusaha manjajaki cara bagaimana membentuk kesadaran diri agar tak berujung pada “kematian karakter” dan memahami sedemikian rupa pokok-pokok yang membuat kita orang mongondow seringkali terjebak pada kesalahan dan kekalahan yang sama.
Perlu saya kemukakan, lahir, tumbuh dan dewasa bersama hal ihwal di Bolaang Mongondow, dan juga sebagai putra dari Bapak dan Ibu etnis Mongondow, tak henti-hentinya saya syukuri. Tidak ada wilayah, etnis, budaya, adat dan tradisi yang lebih mesra, khusyuk sekaligus menggembirakan dari Mongondow.
Pendek kata, bila hidup adalah pengulangan, saya tetap memilih lahir sebagai orang Mongondow.













