Setahun kemudian, Tegar kembali menyabet medali emas Kejurda dan diutus ke Kejurnas di Makassar. Di sana, Tegar berhasil masuk 10 besar untuk kategori klasik.
Saat duduk di kelas V SD, Tegar yang berusia 10 tahun mewakili Kabupaten Boltim menyabet juara V Kejurda.
Di usia ini dia mendapat tawaran dari Kabupaten Wamena, Provinsi Papua, untuk mewakili daerah tersebut di Kejuaraan Catur Provinsi Papua. Di ajang tersebut, Tegar berhasil mempersembahkan medali emas untuk Kabupaten Wamena. “Saya mendapat bonus pembinaan total Rp 50 juta waktu itu,” kata Tegar, Rabu 30 Juni 2021.
Ketika duduk di kelas VI SD, tegar tak diijinkan lagi mengikuti O2SN di Boltim. Alasannya, tutur Tegar, dia disebut bukan lagi atlit catur Boltim melainkan Papua.
Tapi ‘sanksi’ tersebut tak berlangsung lama. Saat duduk di bangkus kelas I SMP, tegar kembali mengikuti Kejurda. Dia pun berhasil menyingkirkan lawan-lawannya dan keluar sebagai juara I.
Keberhasilan ini menjadikan Tegar sebagai wakil Boltim di Kejurnas. Saat itu Tegar harus puas di peringkat 12 besar.
Naik kelas II SMP, Tegar kembali menerima tawaran Kabupaten Wamena di Kejurprov Papua. Dia kembali juara
Ketika Kejurnas di Bogor, Tegar menaikkan gengsinya di peringkat ke delapan. “Saat kelas III saya tidak pernah ikut lomba karena di kelas ujian. Makanya saya fokus di sekolah dulu,” jelasnya.
Tegar kemudian melanjutkan studinya ke SMA di Manado. Bakatnya pun terus dilatih dan beberapa kali dia tampil di kejuaraan.
2019, Tegar menjadi wakil Boltim di Porprov di Kota Bitung. Dia masuk lima besar. Di tahun yang sama, dia mengikuti pertandingan catur antar pelajar di Manado dan keluar sebagai juara pertama. “Sejak kelas dua sampai sekarang belum pernah ikut lomba karena memang kondisi pandemi Covid19,” ungkapnya.
Tinggal di Rumah Kecil Sederhana
Prestasi yang diukir Tegar yang beberapa kali telah mengharumkan nama daerah, tak selaras dengan kondisi ekonomi keluarganya.
Tegar tinggal di rumah sangat sederhana, sempit pula. Rumah milik orangtunya itu berada di Desa Buyat Barat, Kecamatan Kotabunan. Rumah itu berukuran 5×7 meter dan terbuat serba dari papan. Bagian depan terdapat satu kamar dengan dapur yang berukuran 2,5×5 meter.
Atap rumah tersebut terbuat dari daun Rumbia. Itu pun sudah usang. Di saat hujan, kerap ada tetesan air di atap yang harus mereka tambal.
Dinding-dinding rumah juga sudah mulai lapuk di makan usia.
Di dinding bagian dalam rumah, terpajang ‘bukti’ prestasi Tegar yang diabadikan keluarganya. Sertifikat dan piala disimpan baik oleh keluarga kecil itu. Di dinding juga terpajang papan catur ukuran jumbo. “Medali dan piala lain ada di Manado,” kata Tegar.
Sang Ibu, Lisa Mokoagow, menuturkan jika mereka belum mendapat bantuan rumah tinggal layak huni (RTLH) dari pemerintah. “Hanya lantai ini yang dulunya papan sekarang sudah dibeton. Untuk program RTLH kami sudah sering disurvey dan diambil gambar tapi belum jelas kapan ada bantuannya,” ungkap Lisa.
Ibunda Tegar berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Dia juga membantu menopang ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai juru masak di salah satu rumah makan di Desa Buyat. Sedangkan sang suami, Jemi Sumendap, saat ini bekerja di luar daerah sebagai penambang.
Meski dengan kondisi ekonomi serba pas-pasan, orang tua Tegar berupaya mewujudkan cita-cita anak mereka untuk menempu pendidikan hingga perguruan tinggi. Mereka juga terus mensuport Tegar agar terus mengasa bakat caturnya serta tak berhenti berprestasi mengharumkan nama daerah.
Pewarta: Riswan | Editor: Redaksi












