Punya ‘jangkar’ Itu Penting

Oleh: Sudirta Lasabuda

Sudah saatnya dan seharusnya kita sadar melihat berbagai perilaku kotor seperti politik uang dan kampanye hitam yang dilakukan oleh segelintir elit sebagai tindakan kejahatan.

Bukan malah justru memaklumkan berbagai perilaku itu dan menganggapnya sebagai hal lumrah atau sudah biasa. Itu bahaya.

Lebih bahaya lagi kalau perilaku kotor itu dibiarkan, bahkan dianggap biasa-biasa saja yang pada gilirannya menjadi normalitas ditengah kehidupan sosial masyarakat kita.

Jika dipikir-pikir, miris betul memang. Sebegitu angkuhkan kita sebagai rakyat yang katanya pemegang kedaulatan tertinggi di negeri ini, lalu bersikap acuh terhadap hal yang tak beres seperti itu?

Sebegitu kebalkah kita melihat jelas orang yang punya uang, punya kuasa dan bisa menentukan segala hal, kemudian orang lain yang tergolong miskin pasti terpinggirkan dan naifnya kita bilang “itu sudah biasa”,?

Sungguh kegawatan dan kegentingan apalagi yang hendak kita ciptakan, ketika kerap kali kita memaklumkan perilaku kotor yang seharusnya itu menjadi sebuah kejahatan politik terselubung.

Makanya untuk kita, apalagi generasi muda diberbagai sinisme yang selalu muncul secara tiba-tiba, dan kami (termasuk saya pribadi) akui bahwa kami pun turut bersalah atas itu, penting untuk tetap punya “Jangkar” agar kita selalu merasa bahwa, politik juga urusan kita, dan kebijakan serta keputusan elit, sangat penting juga bagi kita.

Karena tahukah kalian, sejak belum lahir, hingga dilahirkan lalu tumbuh dewasa dan menikah, kita sudah diurus dengan politik. Undang-undang perlindungan perempuan dan anak serta segala turunannya adalah bagian dari politik.

Tak hanya itu, sampai kita meninggal pun bahkan berada di liang lahat, masih saja diurus politik. Undang-undang pemakaman misalnya dan sebagainya. Pokoknya seluruh aspek kehidupan kita diatur oleh politik kalau melihat politik sebagai rangkaian dari kebijakan publik, bukan elit yang sibuk berantem sendiri.

Perlu diingat, suara kita berharga bukan hanya dibalik bilik suara. Tapi, saat-saat ini juga. Karena di sistem demokrasi sekarang, hanya itu satu-satunya yang kita punya sebagai rakyat, yaitu Suara.

Suara untuk bisa memaksakan penguasa melakukan apa yang rakyat kehendaki. Jika ada yang berani membantah, coba sebutkan apalagi yang kita punya selain suara.?

Negara termasuk Daerah yang nahkodanya adalah pemerintah atau penguasa punya senjata dan punya uang. Sebagai rakyat, kita punya apa,? Kita punya Suara yang tentu saja sangat berharga bahkan diperhitungkan untuk menjadi penentu kepastian sistem demokrasi itu berjalan baik.

Karenanya jangan mau hak-hak kita bersuara dihalangi atau dilemahkan dengan janji dan iming-iming rupiah.

Sebab, dari hal-hal kecil sekalipun jika kita bersatu barisan, punya sekelompok orang yang memiliki pemahaman, sikap, minat dan tanggung jawab yang sama, kita bisa melakukan sesuatu untuk merubah kebijakan dan keputusan penguasa sesuai dengan apa yang kita sebagai rakyat kehendaki serta inginkan.

Kita bisa apa? Kita bisa melakukan banyak hal, asalkan kita bisa berkumpul, rapatkan dan satukan barisan, menjaga kekompakan serta tidak terpengaruh dengan praktek politik kotor yang berebut kuasa.

Kendati demikian, jangan lihat politik dari sudut pandang bagaimana ribut-ributnya para elit memainkan peran dan dramanya masing-masing, tapi lihatlah sebagai rangkaian kebijakan publik yang berpengaruh di setiap lini kehidupan sosial masyarakat.

Dan itulah namanya politik.
Politik adalah ketika kita bisa menggunakan tangan, suara dan daya kita untuk mengubah segala hal yang kurang beres di Negeri dan Daerah kita tercinta.(***)

"Mau Berita Terbaru Lainnya dari aksaranews.com? Yuk Follow Kami di Google News"