Boltim, aksaranews.com — Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) mengungkapkan bahwa peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayahnya bukan merupakan kegagalan pemerintah, melainkan hasil dari meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus yang dialami.
Hal ini disampaikan oleh Iksan Pangalima, S.Pi., Kepala Dinas PPPA sekaligus Plt. Asisten 3, Sabtu (2/11/2024), yang menjelaskan bahwa sejak beberapa tahun terakhir, advokasi dan sosialisasi mengenai pentingnya pelaporan kasus kekerasan telah gencar dilakukan.
“Saat ini, korban tidak lagi takut melapor karena mereka tahu akan mendapatkan pendampingan hukum dan pemulihan psikologis dari UPTD PPA. Selain itu, pembentukan Forum Anak Daerah (FAD) sebagai pelopor dan pelapor kekerasan perempuan dan anak di tingkat kabupaten hingga desa menjadi langkah preventif yang signifikan,” ujar Iksan, Sabtu (2/11/2024).
Menurut Iksan, penghargaan Kabupaten Layak Anak kategori Madya yang telah diterima Boltim menandakan bahwa pemerintah daerah tidak sekadar berfokus pada penanganan kasus, tetapi juga pencegahan.
“Meningkatnya jumlah laporan menunjukkan bahwa edukasi dan advokasi yang dilakukan telah menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Bahkan kasus-kasus lama, yang terjadi hingga tujuh tahun lalu, baru terungkap setelah masyarakat paham akan hak-hak mereka,” lanjutnya.
Sementara itu, masyarakat yang sebelumnya menganggap kekerasan sebagai hal tabu kini mulai berani angkat bicara. Hal ini terlihat sejak Bupati Sam Sachrul Mamonto menjabat, di mana advokasi dan sosialisasi mengenai kekerasan perempuan dan anak semakin digencarkan.
Pemerintah berharap masyarakat terus aktif berpartisipasi dalam mencegah kekerasan ini, dibarengi dengan dukungan tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat.
Pemerintah Boltim, meski menghadapi keterbatasan infrastruktur dan tenaga profesional, tetap berkomitmen melanjutkan sosialisasi dan penanganan kekerasan ini.
Iksan pun menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah tidak akan diabaikan, tetapi berharap kritikus juga turut andil dalam proses pencegahan kekerasan perempuan dan anak.













