Kebanggaan menjadi orang Mongondow, membuat saya harus secara jujur mengakui, bahwa melihat realita kehidupan dan karakter sebagian besar dari kita orang Mongondow, acap kali berada pada situasi dan kondisi yang alih-alih menguntungkan, kita sering kali tenggelam dalam keadaan tidak sadar diri yang berujung pada kekalahan demi kekalahan. Saya akan coba paparkan kesadaran diri dan kekalahan yang dimaksud.
Kita mulai dengan hal kesadaran diri. Bahwa ada dua jenis kesadaran diri menurut Kakanda Uwin Mokodongan, yang hingga kini saya pahami. Pertama; kesadaran struktural yang sifatnya lebih kepada ajakan, rencana yang mengarah kepada tindakan berdasarkan perintah atau arahan yang kadang kala bertolak belakang dengan kesadaran alami kita. Contoh sederhana misalnya; kesadaran diri kita dalam upaya melestarikan budaya daerah.
Kebanyakan orang-orang yang masuk dalam kategori ini bertindak ketika datang momen tepat menurut mereka. Memanfaatkan keadaan. Tidak ada kesadaran alami. Bertindak atas nama daerah, lebih parah lagi bersedia memberi hadiah bagi siapa saja yang berhasil lolos dalam penilaian sang juru nilai (jika dilombakan). Sebenarnya tindakan itu sah-sah saja, tapi biasanya terbatas dan tidak cukup bertahan lama, kecuali ada wadah atau paling tidak fasilitas yang medukung agar upaya melestarikan budaya ini tidak berhenti seiring dengan momen berakhir. Lagi pula, di zaman modern ini, mana ada pemuda yang punya kesadaran diri dan dada membusung meski hanya sekadar memperkenalkan adat istiadat atau budaya daerahnya? Apalagi melestarikan?
Jujur saja, saya lebih sepakat jika upaya melastarikan budaya daerah ini ditanamkan dan diterapkan sejak dini kepada anak-anak kita dengan cara sederhana dan segampang mungkin. Semisal memberi contoh kepada anak-anak bagaimana berkomunikasi dengan bahasa daerah, bagaimana menghormati yang tua dan menghargai yang muda, bagaimana menjadi manusia yang beradab dan berbudi luhur menurut kebiasaan yang dibawa leluhur kita secara turun temurun dan lain sebagainya.
Intinya memberikan contoh kepada generasi kita, itu lebih baik dan dapat bertahan selama-lamanya ketimbang mengajak, apalagi memerintah. Maka memberikan contoh adalah sebaik-baik cara.
Contoh lain tentang kurangnya kesadaran diri orang-orang kita terlihat ketika sedang mengendarai kendaraan. Paling lazim dijumpai itu adalah persolan helm untuk kendaraan roda dua, sabuk pengaman (safety belt) untuk kendaraan roda empat. Helm ada, begitupun dengan sabuk pengaman. Tapi entah kenapa dan mengapa seringkali kita abai menggunakannya atau memang sudah menjadi kebiasaan sehingga hal-hal sesederhana itu pun luput dari perhatian.
Lucunya, dalam keadaan genting, barulah kita setengah sadar (bukan menyadari), harus pakai helm dan sabuk pengaman agar aman melintas di kerumunan petugas yang sedang bertugas. Karena sadarnya cuma setengah dan memang bukan betul-betul menyadari, kadang setelah berhasil melintas, helm dilepas pun sabuk pengaman demikian. Jadi, kesadarann memakai helm dan sabuk pengaman bukan karena demi keselamatan dirinya tapi sekadar cari aman agar terlepas dari pemeriksaan petugas polisi. Ini lah yang kemudian bisa memberikan simpulan kalau kesadaran diri orang-orang kita masih kurang.
Kedua, kesadaran kultural. Sifatnya lebih mengarah kepada contoh, memberikan contoh agar bisa diikuti orang-orang. Tanpa paksaan, perintah, dan arahan. Artinya, kesadaran kultural ini, timbul dengan sendirinya. Memakai helm atau sabuk pengaman misalnya; itu benar-benar atas dasar kesadaran diri sendiri. Alami untuk keselamatan pribadi bukan untuk sekadar aman melintas di jalur tilang. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini di zaman kini sudah jarang ditemui. Kalaupun ada, bisa dipastikan orang itu Limited Edition.
Percaya atau tidak, begitulah fakta dan realita di lapangan saat ini. Jika ada yang berani membantah, mari bartaruh. Sebut berapa taruhan yang anda mau, dan pastikan jangan sampai kalah. Sebab apalagi yang bisa dibanggakan kalau dalam segala bidang orang-orang kita selalu mengalami kekalahan.
Bicara soal kekalahan, saya akan coba memberi sedikit contoh berdasarkan pengalaman yang saya dapati dan rasakan atas kekalahan demi kekalahan yang sering kita (orang Mongondow) alami, saya yakin hampir sebagian besar intau Mongondow (yang berpikir) barangkali pernah merasakan hal serupa. Ini masih terkait erat dengan kesadaran diri khususnya kita orang Mongondow, suku yang paling unik di Seantero Sulawesi Utara (Sulut).
Setidaknya, ada tiga hal yang membuat suku Mongodow ini unik dari sudut pikir saya, yaitu tidak tahu, tidak mau tahu, dan sok tahu. Formula yang sempurna untuk menggiring kita jatuh kedalam lubang yang sama. Kalah, kalah, dan kalah.
Lalu, bagaimana kaitan kalah dengan ketiga hal tersebut diatas?
Bulan lalu, secara kebetulan -saat di Bandara Soetha menunggu jemputan bus menuju Bogor- saya bertemu dengan seorang kawan Mongondow yang cukup akrab (bapak dan ibunya juga Mongondow tulen) di Jakarta. Beberapa jenak saling bertukar-pandang untuk memastikan dan mencoba mengingat siapa sosok yang saya sua supaya jangan sampai salah orang. Selang beberapa menit saya tersadar, ternyata dia adalah orang yang saya kenal di mongondow sejak masa kanak dulu. Bagi saya itu sebuah kejutan yang menggembirakan bersua dengan sesama etnis di negeri orang.
Saya pun menyapa dia dengan bahasa Mongondow. Setelah bertukar cerita beberapa saat, saya memerhatikan dia tampak asyik bercerita menggunakan Bahasa Indonesia bercampur logat dan dialek Manado, padahal saya terus membalasnya dengan bahasa Mongondow. Awalnya saya berfikir, barangkali yang bersangkutan sudah lama tinggal dan menetap di Kota ini, jadi agak kaku (lebih tepatnya tidak tahu) berbicara menggunakan bahasa mongondow. Orang mongondow tapi tak tahu berbahasa mongondow. Satu kali kalah.
Tapi, bagaimana bisa seseorang yang tumbuh dan lahir dari rahim seorang ibu mongondow bapaknya juga mongondow, kemudian hanya beberapa tahun, bulan atau minggu -bisa jadi pasiar tiga hari- saja menetap di Kota besar, bo totok bi’ dia’ mo ta’au tu mumongondow?
Entah ketidaktahuannya itu sebagai siasat menyembunyikan Identitas diri mongondow karena berada di tengah masayarakat modern, atau sebab ‘gengsi’ dan ‘makang puji’ pribadi, sehingga mengaku tidak tahu berbahasa mongondow agar terkesan ke-kini-an dan menghilangkan ke-kuno-an? Sampai disini, orang mongondow sudah mengalami dua kali kekalahan.
Orang mongondow mengaku tidak tahu berbicara dengan bahasa Mongondow bisa dimaklumi dengan berbagai macam asumsi sekalipun bercampur loleke semena-mena terhadap yang bersangkutan. Tapi bagaimana kalau dia pun tidak mengerti dengan bahasa nenek moyangnya sendiri? Biasanya, kalau seseorang tidak mengerti terhadap sesuatu itu, cenderung bersikap tak mau tau. Jika sudah begitu, jelas kalah yang ke-tiga kalinya tak dapat dielakkan.
Dan rupanya kekalahan bertubi-tubi ini, tak terbendung tatkala seorang mongondow bersikap sok tahu. Biasanya, sikap tersebut muncul bersamaan dengan kalimat penghakiman sepihak dari orang yang ‘sok tahu’ itu yang tanpa didasari oleh pengetahuan yang cukup atas suatu hal.
Meladeni orang-orang seperti ini cukup dengan memberikan contoh yang mudah membuka cara pikirnya, sebab tak sedikit pula orang Mongondow yang pernah saya temui, terutama diluar kota ataupun Daerah, bisa menyadari diri dan ‘membayar’ kekalahannya dengan bertindak sebagaimana layaknya orang Mongondow.
Karenanya, terhadap orang-orang mongondow yang masih belum menyadari diri dan sering mengalami kekalahan-kekalahan hakiki dalam hal dan situasi yang bagaimanapun, saya cuma punya petua pendek: pura-pura tidak tahu atas segala hal, adalah sebaik-baik cara untuk tahu lebih banyak tentang semua hal. Semoga kita semua tetap dalam lindungan pemilik semesta.
Damai di langit, damai di bumi, damai dihati kita semua.













