Anggaran program paket kesetaraan PNFI di Boltim terancam silpa

Suasana kegiatan belajar mengajar program Paket kesetaraan di SKB Tutuyan. (Istimewa)

Padahal, pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar tahun ini sudah seharusnya berjalan sejak juli 2022, namun pihaknya masih terus melakukan pendataan.

“Beberapa hal yang masih menjadi kendala yakni pada proses penginputan Dapodik (Data Pokok Pendidikan) yang kurang lengkap. Seperti misalnya, ada peserta yang punya ijazah, tapi KK (Kartu Keluarga) tidak ada,” kata Harianto Mamonto.

“Sudah sekitar 1200-an yang sinkron, dan masih ada juga yang perlu perbaikan,” tambah Harianto, kepada wartawan aksaranews.com di kantor SKB Tutuyan, Rabu 18 Oktober 2022, sore.

Disisi lain, terkait dengan peserta paket kesetaraan, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Tutuyan justru membeberkan perbedaan data, terutama jumlah siswa yang tercatat di Satuan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang hanya berjumlah sekitar 800 lebih siswa.

Anton Paputungan, Kepala SKB Tutuyan menuturkan, bahwa dari 800-an siswa kesetaraan, masing-masing terbagi atas siswa lama sekitar 200 lebih dan siswa baru sebanyak 600 lebih.

“SKB punya siswa lama sekitar 200-an, sementara siswa baru sudah 600-an, dan yang mengikuti proses belajar mengajar baru 60 lebih siswa,” ujar Anton sembari menambahkan, bahwa 200 lebih siswa lama itu tidak termasuk dalam program paket kesetaraan tersebut.

“Jadi, SKB tetap terus berjalan kegiatannya, kendati program ini gagal. Karena kita punya siswa lama yang tidak masuk pada program paket kesetaraan itu. Yang masuk cuma siswa baru,” tambah Anton.

"Mau Berita Terbaru Lainnya dari aksaranews.com? Yuk Follow Kami di Google News"