Warga Papan Loe Bantaeng keluhkan asap tebal dan bau busuk limbah pabrik smelter

Perusahaan Nickel PT Huady Nickel Alloy yang dikeluhkan warga setempat akibat aktifitasnya yang sering mengeluarkan asap tebal dan bau busuk (Foto: Muhammad Ramli)

Bantaeng, aksaranews.com Warga Papan Loe Desa Papan Loe, Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mengeluhkan aktivitas pabrik smelter PT. Huady Nickel Alloy yang ada di daerah tersebut.

Pasalnya, warga yang berdomisili di sekitar pabrik merasa tidak nyaman karena adanya pencemaran udara dan kerap menimbulkan bau tidak sedap yang berasal dari pabrik smelter.

Ira (40), warga setempat mengatakan, bahwa bau tidak sedap kerap timbul ketika aktivitas pabrik smelter beroperasi dengan hembusan ke arah pemukiman rumah warga yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari pabrik dan itu sangat menganggu.

“Parah baunya, ditambah ketika pas angin mengarah rumah warga asap masuk kerumah,” kata Ira kepada Jurnalis aksaranews.com saat ditemui di lokasi, Senin (27/09/2021).

Pabrik smelter yang berdiri sejak 2014 tahun silam tersebut hanya berjarak sekitar 200 meter dari rumah-rumah penduduk.

Sehingga jarak sedekat itu mengakibatkan polusi dan akibat dampak pengoperasian pabrik di tengah permukiman itu mengganggu aktivitas harian warga.

“Suara gemuruh terdengar sepanjang waktu, asap tebal yang membumbung tinggi menyelimuti kawasan pemukiman masyarakat disertai dengan debu bahkan diperparah dengan bau busuk yang menyengat yang berasal dari limbah pabrik,” ungkapnya.

Kondisi tersebut juga dibuktikan pada saat jurnalis aksaranews.com melakukan pemantauan di wilayah pemukiman menunjukkan jarak pabrik sangat dekat.

Kemudian dikuatkan dengan Video yang direkam. Kepulan asap berwarna keruh dari corong pabrik pun terlihat mengepul di udara. Langit di sekitar pabrik berwarna abu-abu pekat akibat asap dari area pabrik.

Selain itu, keberadaan pabrik tersebut juga terkesan tidak ada kepedulian terhadap warga sekitar. Selama berdiri, tidak ada bantuan atau santunan seperti CSR yang diberikan kepada masyarakat.

“Kita lihat saja, kalau pas lagi beroperasi, asapnya cepat turun ke bawah, mengganggu pandangan, bernafas juga susah,” tutur Ira.

Pemerintah Dearah dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantaeng menindak lanjuti tuntutan warga dengan melakukan pertemuan bersama pihak Manajemen PT Huady Nickel Alloy Bantaeng dan ditengahi oleh DRPD Bantaeng, Senin (27/09/2021) Pagi.

Hasil dari pertemuan tersebut, menurut kepala DLH Kabupaten Bantaeng, Nasir Awing menyampaikan, untuk hari ini pihaknya hanya fokus menampung aspirasi masyarakat yang terdampak limbah dan bau busuk dari pabrik Smelter tersebut.

“Terkait dengan aspirasi masyarakat setempat, bersama dengan Pihak PT Huady Nickel Alloy. Tentu dari pihaknya akan menindak lanjuti tuntutan masyarakat yang terdampak akibat limbah pabrik Smelter ini,” kata Nasir Awing usia mengikuti pertemuan dengan PT Huady Nickel Alloy.

“Terakhir pihaknya juga dari DLH Bantaeng sudah mengambil sampel limbah dari pabrik Smelter tersebut, guna untuk dilakukan uji Laboratorium,” tambahnya.

Berdasarkan hasil wawancara media ini kepada warga setempat, bahwa mereka hanya meminta kompensasi dari PT Huady Nickel Alloy Bantaeng sebesar 5 juta/bulan akibat dampak limbah pabrik Smelter yang dirasakan warga saat ini.

“Namun keluhan ini tak kunjung ditindaklanjuti oleh Pihak PT Huady Nickel Alloy,” ucap warga setempat.

“Kami minta kepada PT Huady Nickel Alloy ganti rugi lahan saja, yang kami tempati ini, agar kami pindah dari lokasi ini, supaya kami juga terhindar polusi akibat dampak pabrik smelter ini,” pintanya.

Adapun jurnalis aksaranews.com telah berupaya mengkonfirmasi hal tersebut kepada pihak Manajemen PT Huady Nickel Alloy, namun belum mendapatkan jawaban hingga berita ini ditayangkan.

Pewarta: Ramli │ Editor: Redaksi
"Mau Berita Terbaru Lainnya dari aksaranews.com? Yuk Follow Kami di Google News"