Tanpa gaji, Ade Irawan sukarela mengajar anak-anak di Pemukiman Transmigrasi Balukut Boltim

Ade Irawan bersama Maimuna pasangan suami istri yang memilih sukarela mengajar anak-anak di Bukit Balukut sejak Tahun 2017 (Foto: Riswan Hulalata)

Boltim, aksaranews.com Ade Irawan (45) berdiri di depan rumahnya saat tim media tiba di depan rumahnya di Jl. Bukit Balukut, Desa Motongkad Utara, Kecamatan  Motongkad, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sabtu 16 Oktober 2021, sekira pukul 13.30 WITA.

Ade Irawan ternyata telah menunggu kedatangan media sejak lama. Ia menyambut kami dan mempersilahkan masuk ke rumah sederhana yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Boltim sebagai Pemukiman Transmigrasi.

Pemukiman Transmigrasi Balukut dihuni oleh puluhan warga yang merupakan bagian dari Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) yang dibangun sejak tahun 2017.

Akses menuju Bukit ini berjarak lebih dari tiga kilometer dari ibukota Kecamatan Motongkad, Kabupaten Boltim.

Bukit Balukut, Pemukiman Transmigrasi Desa Motongkad Utara, Boltim (Foto: Riswan Hulalata)

Pemukiman transmigrasi yang dihuni 56 kepala keluarga (KK) ini hanya memiliki satu akses jalan masuk yang tergolong ‘ekstrem’ dan cukup berbahaya bila belum terbiasa menguasai medan jalan yang terjal.

Tim kami beranggotakan 6 orang yang terdiri dari 5 media dan 1 warga setempat. Kami menggunakan mobil yang dipinjamkan warga dan menuju bukit Balukut sekira pukul 11.30 WITA.

Jalan terjal menuju ke bukit ini ternyata baru berupa perkerasan yang badan jalannya banyak dipenuhi lumput liar. Medan jalan cukup berat, terdapat beberapa tanjakan sehingga kami sempat berhenti karena mobil tak bisa lagi membawa kami menuju Bukit Balukut.

Tim menggunakan mobil saat ke bukit Balukut Pemukiman Transmigrasi Desa Motongkad Utara (Foto: Riswan Hulalata)

Dalam perjalanan, sebelum tiba di bukit ini, kami harus menyebrangi sungai yang lebarnya sekira 8 meter. Sepanjang jalan, mata akan disuguhi pemandangan menakjubkan.

Di beberapa titik ketinggian, tampak terlihat lautan luas, Danau Motongkad dan desa-desa sekitar. Di sisi kiri dan kanan jalan terhampar pepepohonan cengkih produktif, pohon-pohon kelapa serta beberapa jenis tanaman bulanan seperti cabai dan jagung.

Para petani tampak sibuk mengurus tanaman. Sebagian lagi sedang mengayunkan parang memangkas rumput di sela-sela tanaman cengkih.

Tiba di Bukit Balukut kami sempat mengelilingi Pemukiman Transmigrasi hingga kemudian menemui pasangan suami istri (Pasutri) yang sama-sama berprofesi sebagai guru ini.

Puncak Balukut yang masih asri ditumbuhi pohon-pohon dan tanaman warga Transmigrasi (Foto: Riswan Hulalata)

Di dalam rumah sederhana, Ade Irawan kemudian menceritakan kisahnya selama menjadi guru sukarelawan di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Bukit Balukut Pemukiman Transmigrasi.

Ade Irawan bersama istrinya Maimuna, masing-masing berusia 45 tahun. Cerita keduanya sebagai tenaga pengajar satu-satunya di sekolah di bukit Balukut sudah lama terendus wartawan, namun baru hari ini kami berhasil menemui keduanya.

Pasangan suami istri, Ade Irawan dan Maimuna adalah warga transmigran asal Jakarta. Mereka masing-masing bergelar Sarjana Pendidikan Islam (SPdI), alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Bengkalis.

Ade Irawan bersama Maimuna pasangan suami istri yang memilih sukarela mengajar anak-anak di Bukit Balukut sejak Tahun 2017 (Foto: Riswan Hulalata)

Ade dan Maimuna sudah bermukim di Bukit Balukut sejak 2016. Mereka telah dikaruniai dua orang anak. Anak pertama berusia sembilan tahun kini duduk di kelas III SD, dan anak kedua berusia empat tahun.

“Anak pertama ‘hasil’ dari Jakarta, kalau anak kedua sudah hasil Balukut,” gurau Ade Irawan kepada wartawan, di rumah sederhananya, didampingi Maimuna.

"Mau Berita Terbaru Lainnya dari aksaranews.com? Yuk Follow Kami di Google News"