Sebagai sekolah yang belum mendapat ijin operasional, Madrasah Ibtidaiyah Swasta Ma’arif bukit Balukut belum mendapatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah.
Maimuna menuturkan, dengan status tersebut, sekolah tersebut tidak memiliki anggaran untuk berbagai kegiatan kesiswaan, hanya dengan swadaya saja kegiatan kesiswaan dilakukan.
“Tidak ada anggaran untuk kegiatan semacam lomba atau kegiatan-kegiatan lain kepada siswa,” tuturnya.
Sehingga dalam menjalankan proses belajar mengajar dengan segala keterbatasan dan status sebagai sekolah jarak jauh. Bagi mereka, apapun status sekolah, yang terpenting adalah mencegah anak-anak Bukit Balukut dari buta aksara dan buta tulis serta dapat membaca Al-Qur’an.
Sekolah yang hanya meminjan kantor UPT ini ternyata telah menggugah hati salah satu warga setempat, Sukri Mamonto.
Sukri ternyata telah menghibahkan sebagian tanahnya untuk pembangunan Madrasah Ma’arif. Meski lahan telah tersedia, belum ada informasi kapan pembangunan sekolah itu dapat terealisasi.
“Ini tanah warisan orang tua saya, jadi saya hibahkan untuk amal jariyah,” kata Sukri kepada media saat kami singgah di kediamannya sebelum pulang.
Ade dan istrinya, Maimuna, baru-baru ini mengikuti seleksi penerimaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di Kabupaten Boltim tahun 2021.
Ade gagal mengikuti seleksi tersebut. Dia tak seberuntung istrinya yang lolos dalam penerimaan P3K.
Maimuna bercerita, pada seleksi penerimaan P3K, dia memilih kuota SMP Satap Kokapoy.
Dia sendiri tak tahu di mana letak desa itu. Baru setelah lulus, dia mulai mencari informasi letak desa dan sekolah calon tempatnya akan mengajar.
“Saya lihat di sekolah itu (kuotanya) masih kosong jadi saya pilih. Saya tidak tahu sekolah itu dan desanya di mana,” cerita Maimuna.
Dengan begitu, Maimuna harus bersegera menyiapkan diri untuk pindah ke Kokapoy. Berat hatinya meninggalkan Bukit Balukut. Dia dan suami terlanjut ‘jatuh cinta’ dengan anak-anak di wilayah terpencil itu.
“Saya ingin tetap di sini (Bukit Balukut) tapi istri saya lulus P3K di Kokapoy. Di mana pun wilayah Kokapoy itu, kami bersyukur karena telah lulus P3K,” kata Ade.
Menjadi tenaga penyuluh kontrak dan guru kontrak, mereka jalani dengan tekun. Ade dan Maimuna berusaha memaksimalkan seluruh pendapatan mereka dari gaji tersebut untuk kebutuhan hidup keluarga.
Ade Irawan dan Maimuna selalu bersyukur di segala kondisi yang mereka alami. Sebagai tambahan pendapatan, Ade dan Maimuna memanfaatkan pekarangan rumah mereka untuk ditanami cengkih dan tanaman bulanan lainnya.
“Cengkih yang saya tanam sebanyak 30 pohon, dua puluhan pohon sudah berbuah,” ungkap Ade.
Dia bercerita, cengkihnya pertama kali panen pada 2019 lalu. Beratnya hanya 2 ons dan laku terjual senilai Rp 14.000,. Tahun 2020, panen cengkih ini naik dan menghasilkan Rp 400.000.
Tahun ini, pohon-pohon cengkihnya menghasilkan 18 kilogram cengkih kering dan terjual seharga Rp 1,8 juta.
“Lahan rumah ini ada 25×50 meter, karena cukup besar maka saya tanami cengkih. Alhamdulillah sudah ada hasilnya untuk tambahan pendapatan. Ada juga tanaman cabai,” sebutnya.
Dengan pendapatan baik dari gaji sebagai tenaga penyuluh kontrak Kemenag dan tenaga guru honor Pemkab Boltim, serta tambahan pendapatan dari hasil panen cengkih setiap tahun, Ade Irawan dan Maimuna mensyukurinya. Mereka memegang prinsip untuk selalu bersyukur dalam segala kondisi yang dialami.
Pewarta: Riswan │ Editor: Redaksi













