Sentuhan Maestro Yusra Alhabsyi – Dony Lumenta di Usia ke-72 Bolaang Mongondow

Penulis: Hamri Mokoagow

Bolmong, aksaranews.com Tanggal 23 Maret 1954 menjadi tonggak sejarah lahirnya Kabupaten Bolaang Mongondow sebagai sebuah daerah otonom. Penetapan ini terjadi setelah pengunduran diri Paduka Raja terakhir, Tuang Henny Yusuf Cornelis Manoppo, pada 1 Juli 1950, serta maklumat bergabungnya Kerajaan Bolaang ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebelumnya, Kerajaan Bolaang dikenal sebagai entitas berdaulat yang memiliki kekuatan hukum, politik, dan ekonomi, serta disegani di kawasan utara Sulawesi.
Pada awal pembentukannya, Anton Cornelis Manoppo ditunjuk sebagai Bupati pertama berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1954. Ia memimpin hingga Juni 1954, menjadi peletak dasar awal pemerintahan daerah ini.

Sejak masa itu hingga kini, Kabupaten Bolaang Mongondow telah dipimpin oleh 15 bupati, dan saat ini berada di bawah kepemimpinan Yusra Alhabsyi sebagai bupati, didampingi Dony Lumenta sebagai wakil bupati.

Di usia ke-72 tahun, Bolaang Mongondow berada dalam fase yang menarik. Jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, usia ini mungkin mendekati senja. Namun bagi sebuah daerah, 72 tahun justru mencerminkan masa menuju kedewasaan—fase penting dalam menemukan jati diri dan arah pembangunan. Terlebih, sebagai daerah yang telah mengalami pemekaran sejak 2007, Bolaang Mongondow masih berada dalam proses membangun identitas dan peradaban barunya.

Di bawah kepemimpinan Yusra Alhabsyi dan Dony Lumenta, arah baru pembangunan mulai terlihat jelas. Dengan mengusung jargon Bolmong JUARA (Maju dan Sejahtera), keduanya seakan sedang membangun “landasan pacu” untuk masa depan daerah.

Istilah “maestro” yang kerap disematkan bukan sekadar simbolik. Dalam makna luas, maestro adalah sosok yang mampu melahirkan karya dan gagasan besar yang memberi dampak nyata. Dalam konteks pemerintahan, istilah ini menjadi bentuk penghormatan terhadap pemimpin yang berhasil merancang arah dan fondasi pembangunan yang kuat.

Tulisan ini pun bukan sekadar puja-puji, melainkan refleksi atas berbagai langkah nyata yang telah dilakukan selama satu tahun kepemimpinan mereka. Apa yang dibangun hari ini adalah fondasi awal untuk perjalanan panjang Bolaang Mongondow ke depan.

Momentum HUT ke-72 tahun 2026 yang mengusung semangat akselerasi pembangunan semakin menegaskan keseriusan pemerintah daerah dalam mendorong kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai warga yang tinggal dan beraktivitas di wilayah Bolaang Mongondow, saya menyaksikan langsung bagaimana berbagai perubahan mulai dirasakan. Di tangan kepemimpinan ini, daerah perlahan menorehkan capaian-capaian baru.
Kado di Usia ke-72: Dari Ekonomi hingga Pendidikan
Hari ulang tahun identik dengan hadiah.

Di usia ke-72 ini, sejumlah “kado” nyata mulai terlihat bagi masyarakat Bolaang Mongondow.
Salah satu yang paling menonjol adalah kebangkitan kembali GADASERA, sebuah perusahaan daerah yang sebelumnya mati suri. Kini, badan usaha tersebut diaktifkan kembali sebagai motor penggerak ekonomi daerah dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Di bawah kepemimpinan Irawan Paputungan sebagai direktur utama, bersama Putri Damayanti Potabuga sebagai direktur keuangan, serta Marjan Palutungan, GADASERA mulai menunjukkan transformasi signifikan.

Penataan kembali aset daerah, khususnya lahan pertanian dan perkebunan, dilakukan secara persuasif tanpa konflik, bahkan tetap memberdayakan masyarakat yang sebelumnya mengelola lahan tersebut. Transformasi ini menjadi langkah awal menuju pembentukan badan usaha daerah yang modern dan adaptif, dengan potensi besar dalam menggerakkan ekonomi lokal.

Di sektor pendidikan, perhatian pemerintah juga semakin terasa. Bantuan perlengkapan sekolah, seragam, hingga layanan transportasi gratis bagi siswa di wilayah terpencil menjadi solusi nyata bagi akses pendidikan. Selain itu, rencana pembangunan universitas di Bolaang Mongondow menjadi harapan baru bagi generasi muda.

Bahkan, konsep kampus berbasis moderasi beragama tengah dikembangkan di Dumoga Raya, bekerja sama dengan IAIN Manado dan institusi keagamaan lainnya. Kampus ini digagas sebagai laboratorium toleransi yang berakar pada budaya lokal, dan diproyeksikan menjadi model keberagaman di Sulawesi Utara.

Di bidang ekonomi, berbagai program pemberdayaan UMKM terus digencarkan. Bantuan usaha, pelatihan tenaga kerja, hingga upaya mendorong UMKM naik kelas menjadi fokus dalam mengatasi persoalan ekonomi masyarakat di tingkat desa dan kelurahan.

Sementara itu, di sektor investasi dan pertambangan, pemerintah daerah melakukan penataan terhadap perusahaan besar seperti PT JRBM, PT BDL, dan PT Conns, sekaligus mendorong percepatan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). Langkah ini diharapkan mampu memberikan perlindungan hukum sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat penambang lokal.

Dalam bidang kebudayaan, pembangunan kawasan perkantoran di Lolak dengan arsitektur Komalig—rumah adat Bolaang—menjadi simbol penguatan identitas lokal. Dukungan terhadap penulisan sejarah dan budaya oleh penulis lokal juga menjadi bagian dari upaya merawat warisan peradaban.

Sebuah Awal, Bukan Akhir

Apa yang telah dilakukan oleh Yusra Alhabsyi dan Dony Lumenta sejauh ini baru sebatas pengantar—sebuah prakata dari karya besar yang masih akan terus ditulis. Perjalanan pembangunan Bolaang Mongondow masih panjang, dan publik tentu menantikan kelanjutan dari berbagai langkah strategis ini.

Di usia ke-72 tahun, Bolaang Mongondow tidak hanya merayakan perjalanan sejarah, tetapi juga menatap masa depan dengan optimisme baru.
Selamat Ulang Tahun ke-72 Kabupaten Bolaang Mongondow.
Teruslah menjadi JUARA: Maju dan Sejahtera.

 

"Mau Berita Terbaru Lainnya dari aksaranews.com? Yuk Follow Kami di Google News"