Kubur Tebing Binuanga adalah situs arkeologi yang terletak di Desa Toraut Barat Kecamatan Dumoga Barat Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Ini adalah kali pertama saya ke Binuanga. Sebelumnya sudah pernah ke situs kubur tebing di Luod dan Tumpa bersama kawan-kawan dari Monibi Institute dan tentunya penduduk lokal. Jefri salah seorang aktivis lingkungan di KPA Tarsius Desa Toraut, dialah yang memandu perjalan kami.
Situs Kubur Tebing Binuanga tercatat pula berada di dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW). Pak Mokoagow, demikian saya biasa menyapa beliau, adalah salah seorang yang bekerja di Balai TNBNW yang turut memberikan banyak informasi terkait situs-situs serupa di dalam kawasan.
Pengalaman istimewa terkait situs-situs yang masih terasa hingga saat ini, berupa runutan tanda tanya silih berganti yang menyergap isi kepala akhirnya mengerucut pada satu pertanyaan besar saya selama ini yakni; adakah hal-hal yang bisa dikonfirmasi secara logika terkait dengan situs ini? Situs yang telah memberi pengalaman paling berharga bagi saya pribadi maupun aktivitas saya bersama teman-teman di Monibi Institute.
Dari jurnal Archaeological Sites at Bogani Nani Wartabone National Park: Damaged Analysis and Effort to Overcome oleh Marzuki, Balai Akreologi D.I.Yogyakarta 2016, saya melahap informasi bahwa penelitian arkeologi di situs – situs kawasan TNBNW telah dilakukan pertama kali oleh Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala Makassar tahun 1992 silam yang telah mendata tinggalan arkeologi kubur tebing batu Binuanga.
Pada tahun 1996, Balai Arkeologi Manado kemudian mengadakan penelitian awal sejumlah tinggalan arkeologi di kawasan TNBNW. Hasil penelitian berhasil mendata situs kubur tebing batu lainnya yakni; Situs Binuanga, Situs Batu Tumpa I dan II, Situs Kosinggolan, Situs Luod, Situs Kampung Tua, Lumpang Batu Jagawana, dan Lansio.
Selanjutnya, pada tahun 2011 penelitian arkeologi mendata ulang hasil penelitian sebelumnya. Dilanjutkan pada tahun 2012 dan di tahun 2013 mengadakan ekskavasi untuk mendapatkan bukti keberadaan kebudayaan manusia di masa lalu yakni di Situs Mansiri yang tak seberapa jauh dari Situs Binuanga yang kami kunjungi. Berdasarkan informasi dari juru pelihara situs, masih terdapat beberapa lokasi yang diperkirakan terdapat tinggalan arkeologi di kawasan TNBNW.
Di tenda yang kami gelar beberapa jarak dari Kubur Tebing Binuanga, ditemani kopi, tembakau, dan nyanyian nocturnal, saya ingat diskusi kongko-kongko dengan beberapa kawan lintas lembaga yang concern di bidang sejarah dan kebudayaan. Dalam diskusi mengemuka dugaan bahwa hasil uji sampel dan penanggalan radiokarbon yang dilakukan para ahli di Situs Mansiri, diperoleh penanggalan bahwa kebudayaan di Situs Mansiri berada di hitungan 3.300 – 2.700 BP.
Dari sini, obrolan mengarah ke Situs Binuanga, tempat yang kini hanya beberapa meter dari tenda tempat kami beristirahat. Beberapa kawan menduga bahwa tinggalan arkeologi di Situs Binuanga pasti sama atau tak jauh berbeda dengan penanggalan hasil uji laboratorium terhadap situs Mansiri. Alasannya adalah, masyarakat di Mansirilah yang membuat Kubur Tebing Binuanga. Artinya, ketika anggota masyarakat Mansiri meninggal dunia, mereka melakukan penguburan di Binuanga. Singkat kata, Kubur Tebing Binuanga adalah bagian dari peradaban masyarakat Mansiri itu sendiri.
Saya membuka jurnal arkeologi terkait situs-situs kubur tebing yang ada di kawasan TNBNW. Salah satunya laporan pendokumentasian kubur tebing di Dumoga (TNBNW) dimana di Situs Kubur Tebing Luod, ditemukan gigi manusia, gerabah hasil kebudayaan, dan tulang belulang. Selain itu ditemukan beberapa relief yang digambar di dalam kamar kubur.
Oh, ya. Saya tidak akan mengurai lebih tentang penelitian atau riset ilmiah yang dilakukan para arkeolog di situs-situs kubur tebing itu, namun pada kesempatan ini saya akan lebih condong pada interprestasi dari ragam pengalaman juga disandarkan pada studi pustaka dan dokumen berupa jurnal-jurnal tentang itu yang sudah saya baca hingga berani memuarakan pada sebuah hipotesa.
Misalnya di Situs Luod, tinggalan arkeologi di dalam salah satu kamar kubur tebing, terdapat ukiran gambar berbentuk perahu. Menurut Uwin Mokodongan seorang penulis, penggiat budaya, sekaligus kawan sesama di Monibi Institute, itulah Bangka, perahu, atau kapal yang digunakan Tumotoibokol dan Tumotoibokat leluhur Bolaang Mongondow.
Tentu orang Mongondow, terutama yang hobi mendengar dan membaca sejarah, tak asing dengan cerita tua leluhur Bolaang Mongondow Tumotoibokol dan Tumotoibokat. Penamaan bermakna bahari dengan peradaban bahari, yakni perahu atau kapal, orang di atas gelombang (laut) dan orang di pecahan ombak. Ini adalah ciri khas bahari, khas maritim. Tertanam sebagai memori kolektif orang Mongondow akan leluhurnya. Maka tak mengherankan ketika di Situs Luod terdapat relief kapal.
Temuan arkeologi inilah yang terus bermain di dalam kepala ketika di dalam tenda sembari ditemani kopi dan asap mengepul di udara seperti menuju tiap bilik kamar kubur tebing. Sebuah temuan dan tinggalan arkeologi ini seperti sebuah konfirmasi terhadap logika atas hikayat yang turun-temurun dikisahkan.
Adalah Dunebbier, seorang misionaris yang tak hanya turun lapangan meriset dan mengumpulkan ragam tuturan lisan dari berbagai pelosok di era kedatangannya di Bolaang Mongondow, melainkan mendengar dengan seksama pelisanan para tetua di Bolaang Mongondow (termasuk raja DC.Manoppo dan para penutur di Komalig/Istana) dan berhasil mendokumentasikan apa yang dikisahkan para tetua itu dalam sebuah buku berjudul Over de Vorsten van Bolaang Mongondow.
Secara singkat penggalan kisah yang dibukukan itu saya kulik kembali disini bagaimana Gumalangit seorang manusia sejarah leluhur Bolaang Mongondow menyaksikan bagaimana dua pasang manusia merapat dari laut ke darat menggunakan perahu/Bangka. Penyaksian ini membuat Gumalangit menyebut dua pasang manusia lelaki-perempuan itu sebagai ki Tumotoibokol dan Tumotoibokat.
Dua orang yang disaksikan Gumalangit ini bukan tokoh fiktif, bukan tokoh dongeng, atau tokoh khayalan belaka. Mereka adalah manusia sejarah yang menggunakan Bangka lalu menepi ke daratan pasca peristiwa yang dalam memori kolektif orang Mongondow disebut Inompuan atau jaman ketika terjadi bencana besar.
Bagi yang pernah hadir atau turut serta dalam sebuah ritual pengobatan (Motayok) di Bilalang, tentu pernah mendengar bagaimana seorang Bolian (pemimpin spiritual dan pemimpin ritus) melantunkan syair-syair kuno saat babak mendiagnosa pasien yang dikenal dengan Bondit Bolian. Syair yang dilantunkan dengan khusuk dan khidmat ini sangat khas bahari, khas maritim. Misalnya penggalan syair berikut ini;
Bogani ki Kaumpungan,
kami tolu na’aya don doman,
tumakoi tumonggoluan,
kom Bangka sinakoyan,
ileagan in sinombulan,
kon dulaknya ing kilang-kilang;
Terjemahannya;
Bogani Kaumpungan,
kami bertiga sudah ada juga,
naik secara bergantian,
ke dalam kapal yang ditumpangi,
diberi layar berbentuk bulan sabit,
di haluan ada hiasan berdenting-denting.
Botoi monag pogagolan
polibu kon tubuan,
tubu kon pintad bulawan,
Nion don im bangka’ ginapang,
ileagan in sinombulan,
botoi-monag pogagolan,
kom pintad inta bulawan,
kontuata in tai ompuan.
Terjemahannya;
Dayunglah dengan cepat
Mengitari dermaga (daratan tempat berlabuh)
Tempat berlabuh di pantai emas
Inilah/telah tiba dua sampan yang saling terkait
Dengan layar yang dibuat berbentuk bulan sabit
Dayunglah dengan cepat
Di pantai emas
Disana ada para dewa (yang akan dihormati/dipuja).
Jelas bahwa syair yang biasa dinyanyikan Bolian ketika dalam keadaan trance sangat khas bernuansa maritim. Maka tak mengherankan ketika di situs kubur Tebing di TNBNW ditemukan relief Bangka atau kapal. Inilah yang saya katakan tadi, tinggalan arkeologi yang ditemukan para ahli justru mengonfirmasi kisah Tumotoibokol dan Tumotoibokat. Kian diperkuat lewat Bondit Bolian atau nyanyian pemimpin spiritual dalam ritual pengobatan yang mengandalkan campur tangan arwah leluhur.
Maka kita juga tak akan heran mengapa Puangan atau rumah adat tempat pelaksanaan ritus kebudayaan di Siniyung Dumoga bubungan atapnya dibuat khas Bangka atau disebut juga Wangga, yakni model berbentuk perahu. Kita juga tak akan heran dalam ritual Monibi, komunitas adat di Siniyung membuatkan dua model transportasi air berbentuk rakit dan satunya lagi perahu berlayar. Ini seperti mengonfirmasi dua periode peradaban dan gelombang migrasi.
Menelisik usia sampel dari Situs Mansiri dan temuan gigi, gerabah atau serpihan guci di Situs Kubur Tebing Batu Binuanga, Situs Tumpa terlebih lagi di Situs Luod berupa relief perahu dan dukungan kebudayaan sebagaimana syair Bondit Bolian dalam ritual Motayok, seolah dikonfirmasi kembali oleh Kwa Cong Guan dalam The Maritime Silk Road: History of An Idea yang menjelaskan bahwa rute maritim abad ke-2 SM hingga 15 M, yang menghubungkan China, Asia Tenggara, Anak Benua India, Semenanjung Arab, Somalia, Mesir, dan Eropa justru dioperasikan oleh pelaut Austronesia di Asia Tenggara dan Tamil di India.
Konfirmasi lain yang berasal dari sebuah catatan kuno Mesir, mengungkapkan 2.000 SM orang-orang Mesir kuno sudah mendapatkan rempah-rempah seperti Cengkeh dan Cendana, Emas dan lainnya, kemungkinan berasal dari Nusantara. Terdapat juga informasi bahwasanya di Mesopotamia terdapat sebuah kendi yang didalamnya memiliki fosil Cengkeh dimana pada masa lampau Cengkeh hanya terdapat di Nusantara tepatnya di Maluku. Karena di Mesopotamia tidak terdapat histori pelayaran maka kemungkinan terbesarnya Cengkeh tersebut dikirim atau berangkat dari Nusantara.
Didasarkan pada bahan-bahan di atas, kuat dugaan si pemilik gigi yang ditemukan arkeolog di situs-situs kubur tebing batu di TNBNW, orang tersebut berada di era ketika Nusantara sudah berada pada kebudayaan maritim.
Seorang sarjana dari Dinasti Han, mencatat bahwa pada 206 SM – 200 M kapal besar dengan 4 layar, komposisi kayu yang kuat dari Nusantara yang mereka sebut Kunlun Po telah berlabuh di Cina yang pada akhirnya menginspirasi pembuatan Kapal di China dan berhasil mereka replika di Abad ke-10 dan Abad ke-13.
James Horneil seorang etnograf asal Inggris mengemukakan, orang-orang Nusantara sudah berkeliaran membangun koloni di Srilangka dan India 500 tahun SM, dan jejak mereka bisa ditemukan dalam bentuk lukisan-lukisan kapal bercadik. Sejarawan Arab, Huraini mengatakan 1 abad sebelum masehi, orang-orang Arab memang sudah berlayar ke India untuk berdagang, namun mereka terbilang lebih muda atau terlambat dibandingkan dengan orang Melayu yang sudah berlayar terlebih dahulu jauh sebelum orang Arab melintasi laut dengan kapal.
Roberd Dick dalam penjelajah bahari menjelaskan tentang beberapa tanaman di seluruh dunia termasuk Jagung dan Ubi jalar tidak akan mungkin tersebar tanpa sebuah intervensi dari Nusantara. Dia juga menemukan banyak kesamaan bahasa yang digunakan Nusantara di Madagaskar, lebih dari itu, bahkan alat musik seperti Kulintang juga ditemukan disana. Pun disimpulkannya bahwa sebagian Nenek Moyang Madagaskar berasal dari Nusantara dengan kemungkinan mereka sudah berlayar sejauh itu di abad ke-8. Disimpulkan juga bahwa pelayaran bangsa Nusantara telah sampai ke benua Amerika dengan beberapa tinjauannya.
Berdasarkan keyakinan, yang meskipun memiliki tendensi, namun dipercaya bahwa Raja Salomo sempat mendapatkan Emas, kayu Cendana, Bulu Merak, dan Gading. Meskipun terasa hal ini memiliki keberpihakan, nanum terlepas dari hal itu, sepertinya barang-barang tersebut tidak akan mustahil jika berasal dari Nusantara.
Sebuah peta yang sempat ditemukan pada pelayar Nusantara, ternyata telah memuat Tanjung Harapan, Portugis, Tanah Brazil, Laut Merah, Teluk Persia dan beberapa tempat lainnya.
Di sisi perairan Nusantara lainnya tepatnya di Selatan Sulawesi, diketahui bersama ukuran kapal yang besar serta keahlian berlayar mereka yang sebelumnya di kenal hingga ke Australia untuk aktifitas barter teripang dengan suku Aborigin. Bahkan dikatakan bahwa sekelas VOC memiliki waktu yang cukup lama menaklukan mereka, mengindikasikan bahwasanya peradaban maritim begitu kental di Nusantara.
Kisah terpisah lainnya dari catatan Stella Mantiri, yang menyebutkan tentang Raja Manado Loloda Mokoagow yang menguasai daratan dan lautan semenanjung utara Celebes serta pengungkapan aktifitas maritim yang serasa baru kemarin. Ini sebagaimana pula tercatat dalam buku memoar berjudul Verhandelingen van het Bataviaasch Gennotschap der Konsten en Weetenschappen Vierde Deel Met Plaaten, (te rotterdam, by Reiner Arrenberg, te Amsterdam, by Johannes Allart) terbitan Bataviaasch Gennotschap der Konsten en Weetenschappen, sebuah lembaga yang berdiri tahun 1778, mencatat; “de Koning van Boelan is de magtigste van deze Noordkust” memberi informasi kepada kita bahwa Raja Bolaang adalah raja yang terkuat di semenanjung pantai utara. Buku ini yang terbit tahun 1786 oleh Bataviaasch Gennotschap der Konsten en Weetenschappen, yang di abad-abad selanjutnya pasca kemerdekaan, kantor lembaga ini telah menjadi Museum Nasional Indonesia yang sebelumnya pada tahun 1949 adalah lembaga Kebudayaan Indonesia setelah diambil alih pemerintah Indonesia.
Di masa Raja Loloda Mokoagow, catatan resmi VOC mengonfirmasi kepada kita bagaimana Loloda Mokoagow menuju Ayong ketemu adiknya Pangeran Mokodompit untuk mengonsolidasikan pasukan untuk bersama-sama dengan aliansi Ternate menggempur Spanyol yang bercokol di Siau. Mereka berangkat menggunakan kapal layar dan terlibat perang pengusiran Spanyol disana. Perang memang tak seimbang sebab Spanyol benar-benar dihajar oleh pasukan aliansi dimana VOC berada di belakang layar peperangan ini. Dalam Het Journaal van Padtbrugge’s Reis Naar Noord Celebes en de Noorderelanden (16 Aug -23 December 1677), pasca Spanyol ditaklukan dalam perang aliansi itu, Loloda Mokoagow bertanda tangan sebagai saksi penyerahan Siau ke VOC.
Keterangan – keterangan ini sangat jelas mengonfirmasi bahwa Kerajaan Bolaang Mongondow adalah Kerajaan Bahari. Oleh sebab itulah kita tidak heran ketika kedudukan kerajaan yang mulanya berpusat di Dumoga pindah ke wilayah bahari yakni Bolaang dan Manado.
Mengapa demikian? Jawabannya adalah; penanda peradaban dan tinggalan arkeologi di Kubur – Kubur Tebing Batu di Dumoga tentu bagian dari bagaimana Punu Mokodoludut akhirnya harus back to basic. Maka dijejakilah Bolaang dan Manado.
Kini, khayalankah kisa Tumotoibokol – Tumotoibokat??
Penulis: Mahmud Mokoginta













