Diduga oknum Brimob aniaya warga di PT Huadi Nickel Alloy Bantaeng, 1 orang meninggal dunia, warga blokade akses jalan masuk

Tampak terlihat Warga Papan Loe Desa Papan Loe Kecamatan Pajukukang Blokade jalan akses masuk di perusahaan Smelter milik PT Huadi Nickel Alloy Bantaeng (Foto: aksaranews.com/Muhammad Ramli)
banner 120x600

Bantaeng, aksaranews.com – Akses jalan masuk gerbang perusahaan smelter milik PT Huadi Nickel Alloy Bantaeng diblokade oleh warga Papan Loe Desa Papan Loe Kecamatan Pajukukang Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan (Sul-sel), Rabu (18/05/2022).

Pemblokiran jalan masuk perusahaan tersebut dilakukan dengan cara menempuhkan tanah oleh warga setempat, untuk memblokir ruas jalan masuk ke perusahaan smelter.

Daeng Tojeng (51) warga setempat, yang juga korban penganiayaan menuturkan, pemblokiran jalan dilakukan warga untuk meminta pihak perusahaan segera bertanggungjawab atas kasus penganiyaan yang mengakibatkan 1 orang meninggal dunia atas nama Nuru warga Papan loe.

“Saya sendiri mengalami luka bagian tangan, bibir dan badan saya, yang dilakukan oleh oknum Brimob yang bertugas di perusahaan ini,” kata Daeng Tojeng kepada jurnalis aksaranews.com saat ditemui di lokasi aksi di area PT. Huadi Nickel Alloy Bantaeng, Rabu.

Berbeda dengan warga lainnya, Andi Asdar yang mengeluhkan aktivitas pabrik smelter PT. Huady Nickel Alloy yang ada di daerah tersebut.

Menurutnya, warga yang berada di lingkaran pabrik merasa tidak nyaman karena adanya pencemaran udara dan kerap menimbulkan bau tidak sedap yang berasal dari pabrik smelter.

Bau tidak sedap kerap timbul ketika aktivitas pabrik smelter beroperasi dengan hembusan ke arah pemukiman rumah warga yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari pabrik dan sangat menganggu.

“Parah baunya, ditambah ketika pas angin mengarah rumah warga asap masuk kerumah,” ungkap Asdar.

Pabrik smelter yang berdiri sejak tahun 2014 tersebut hanya berjarak sekitar 200 meter dari rumah-rumah penduduk, sehingga jarak sedekat itu mengakibatkan polusi dan akibat dampak pengoperasian pabrik di tengah permukiman itu mengganggu aktivitas harian warga.

“Suara gemuruh terdengar sepanjang waktu, asap tebal yang membumbung tinggi menyelimuti kawasan pemukiman masyarakat disertai dengan debu bahkan diperparah dengan bau busuk yang menyengat yang berasal dari limbah pabrik,” ungkapnya.

Kondisi tersebut juga dibuktikan pada saat jurnalis aksaranews.com melakukan pemantauan di wilayah pemukiman menunjukkan jarak pabrik sangat dekat belum lama ini.

Kemudian dikuatkan dengan Video yang direkam. Kepulan asap berwarna keruh dari corong pabrik pun terlihat mengepul di udara. Langit di sekitar pabrik berwarna abu-abu pekat akibat asap dari area pabrik.

Selain itu, keberadaan pabrik tersebut juga terkesan tidak ada kepedulian terhadap warga sekitar. Selama berdiri, tidak ada bantuan atau santunan seperti CSR yang diberikan kepada masyarakat.

“Kita lihat saja, kalau pas lagi beroperasi, asapnya cepat turun ke bawah, mengganggu pandangan, bernafas juga susah,” tutur Asdar.

“Terakhir ia, meminta pihak perusahaan segera merealisasikan tuntutan warga yang sampai hari ini belum direalisasikan oleh perusahaan tersebut”, pungkasnya

Berdasarkan hasil wawancara media ini, kepada korban kronologi kejadian itu, berawal ketika kami masuk area Perusahaan ini, pada Selasa (17/05/2022) malam, mencari limbah besi, namu tidak lama kemudian Oknum Brimob berinisial R menegur/melarang saat itu juga, oknum Brimob tersebut, langsung memukul kami dengan mengunakan senjata api.

Bahwa oknum Brimob ini juga mengancam kami, akan melakukan penembakan terhadap saya.

Adapun jurnalis aksaranews.com telah berupaya mengkonfirmasi hal tersebut kepada pihak Manajemen PT Huady Nickel Alloy, namun belum mendapatkan jawaban.

Sementara pihak polisi, belum ada keterangan resmi. Hingga berita ini terbit.

Penulis/Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.