Bantaeng, aksaranews.com – Berbagai upaya dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam mengatasi masalah Stunting dan Gizi buruk di Derahnya. Salah satunya memberikan edukasi dan melakukan program pencegahan kepada kelompok yang rentan terkena masalah gizi tersebut.
Kepala Dinkes Bantaeng, dr. Andi Ihsan melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinskes Bantaeng, Abdul Rasyid, S.K.M. M.Kes menjelaskan, ada tiga kelompok tergolong rentan terkena masalah gizi, yakni, bayi, balita, dan ibu hamil. Penenanganannya pun harus dilakukan secara menyeluruh.
“Untuk mengatasi masalah gizi buruk dan stunting, Dinkes Bantaeng melancarkan program komprehensif sejak para calon ibu masih remaja hingga setelah anak lahir sampai beranjak balita. Program tersebut dimulai dengan pemberian vitamin penambah zat besi kepada bayi dan remaja putri setiap seminggu sekali selama satu tahun,” jelas Rasyid kepada Media ini saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (08/02/2021) siang tadi.
Lebih lanjut ia terangkan, masalah gizi merupakan persoalan yang kompleks dan panjang. Oleh sebab itu, antisipasi atau pencegahan dilakukan sejak sebelum masa kehamilan hingga setelah bayi dilahirkan.
“Untuk mempersiapkan wanita usia subur dan tidak menjadi ibu hamil kurang gizi kita memberikan tablet tambah darah kepada remaja putri, terutama yang memiliki gejala anemia,” terang Rasyid.
Ditambahkannya pula bahwa, dalam hal edukasi stunting dan gizi buruk ini, pihaknya juga bekerjasama dengan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di seluruh kecamatan membuka kelas ibu hamil dan ibu balita. Rata-rata, setiap ibu hamil yang memeriksakan kandungannya ke Puskesmas akan menerima 3 kali pertemuan tentang berbagai materi kehamilan, mulai dari soal kehamilan, cara membuat makanan bayi dan balita, hingga senam ibu hamil.
Bahkan, Kementerian Agama (Kemenag) Bantaeng juga dilibatkan untuk memberikan penyuluhan tentang kesehatan ibu dan anak kepada para calon pasangan yang akan menikah.
“Jadi, Setiap ada yang mendaftar ke KUA (Kantor Urusan Agama), akan diberikan penyuluhan. Kita berikan edukasi kepada calon pengantin, untuk calon ayah dan calon ibu guna mempersiapkan kehamilannya, mencegah stunting,” tambah Rasyid.
Menurut Rasyid, ada tiga faktor yang membuat bayi, balita, atau ibu hamil kekurangan gizi, antara lain, faktor ekonomi seperti ketidakmampuan keluarga untuk membeli makanan dengan gizi yang cukup, faktor lingkungan yang berdampak besar bagi keterpenuhan gizi, dan faktor pendidikan yang berkaitan dengan pola asuh. Hal ini bisa terjadi apabila orang tua tidak secara penuh memperhatikan tumbuh kembang anaknya.
“Kalau bayi, balita, atau ibu hamil misalnya terkena bakteri dari lingkungan yang kotor atau air yang tidak bersih, maka bisa kena infeksi. Dampaknya bisa kena diare. Diare terus menerus itu bisa membuang gizi-gizi dari makanan yang seharusnya diserap oleh tubuh. Selanjutnya, pendidikan, kalau orang tua, anaknya tidak mau makan makanan sehat, akan diupayakan agar tetap bisa masuk bagaimanapun caranya. Kalau oleh asisten, bisa jadi anak tidak mau makan, dibiarkan, atau dikasih makanan lain yang kesehatannya tidak terjamin biar anaknya diam,” beber Rasyid sembari manambahkan jika, faktor ekonomi bisa menyebabkan ketiga faktor ini kekurangan gizi.
Sekedar diketahui, berdasarkan riset kesehatan dasar masyarakat tahun 2021, Kabupaten Bantaeng berada pada posisi kurang lebih 21 persen angka stunting. Dari data tersebut, Bantaeng termasuk salah satu Kabupaten dari 24 Kabupaten/Kota di Sulsel paling rendah angka kasus stuntingnya.
Pewarta: Ramli | Editor: Redaksi













