Akui lalai awasi para siswi, dua mantan Kepsek di Boltim minta maaf

Kiri: Lutfi Bazmul, S.Pd, mantan Kepala SMP Negeri Daerah Kotabunan di desa Bulawan. Kanan: Unggu Altje Saroinsing, S.Pd, mantan Kepala SMP Negeri 3 Tutuyan di desa Dodap.

Boltim, aksaranews.com – Dua mantan Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian keduanya dalam mengawasi tarian mayoret saat mengikuti lomba drumband pada perayaan HUT RI ke-77.

Aksi para siswi yang melakukan tarian erotis ‘Bento’ pada perayaan HUT RI ke-77, Senin 15 Agustus 2022 lalu, mengakibatkan dua Kepsek tersebut dicopot oleh bupati Boltim.

Keduanya yakni Lutfi Bazmul, S.Pd, mantan Kepala SMP Negeri Daerah Kotabunan di desa Bulawan dan Unggu Altje Saroinsing, S.Pd, mantan Kepala SMP Negeri 3 Tutuyan di desa Dodap.

“Saya sebagai Kepala SMP N Daerah Kotabunan memohon maaf kepada publik karena ada tarian yang tidak sewajarnya dilakukan anak-anak seusia mereka yang masih SMP,” kata Lutfi Bazmul, Jumat (19/08/2022) sore.

Lutfi mengatakan, aksi yang dilakukan para siswi diluar apa yang diajarkan para pelatih kepada mereka. Namun begitu, dirinya sebagai kepala sekolah bertanggung jawab dengan mengakui bahwa aksi tersebut adalah kelalaian dan kesalahannya.

“Mungkin kedepan kami akan lebih memperhatikan hal hal yang menyangkut moralitas. Kami juga memohon maaf kepada pemerintah daerah khususnya Bupati, dan kami menerima sanksi yang di berikan bupati kepada kami dengan ikhlas, karena kami menyadari itu kelalaian kami sebagai kepala sekolah,” terangnya.

Senada, Unggu Altje Saroinsing mantan Kepala SMP Negeri 3 Tutuyan juga menyampaikan permohonan maaf kepada semua masyarakat Sulawesi utara khususnya masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.

“Teristimewa Bapak Bupati, atas adanya gerakan drum band yang dipertontonkan anak-anak kami, yang kami akui hal ini tidak cocok diperagakan oleh anak-anak di usia sekolah,” kata Altje Saroinsing.

“Saya menerima dengan ikhlas sanksi yang diberikan Bapak Bupati kepada saya, karena saya memahami bahwa hal ini adalah kelalaian saya selaku kepala sekolah,” sambungnya.

Ia menyebut, keputusan Bupati tersebut menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi dirinya, bahwa dalam membimbing siswa tidak sekedar membuat siswa pintar, akan tetapi siswa juga harus menjunjung tinggi moralitas.

“Terima kasih Pak Bupati yang telah mengedukasi saya bahkan masyarakat pada umumnya. Untuk kedepannya hal hal ini akan saya perbaiki. Semoga Tuhan selalu Memberkati kita semua,” pungkasnya.

Pewarta: Riswan │ Editor: Redaksi
"Mau Berita Terbaru Lainnya dari aksaranews.com? Yuk Follow Kami di Google News"