Bolmong, aksaranews.com — Pimpinan, pengajar, dan alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Hubulo mengunjungi kediaman keluarga almarhumah Azkayra Nafeeza Bakung di Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow, Rabu (4/11/2026).
Kunjungan tersebut bertujuan menyampaikan belasungkawa, meminta maaf secara terbuka, sekaligus menyampaikan komitmen evaluasi menyeluruh setelah seorang santriwati kelas I MTs itu meninggal dunia akibat tenggelam di Sungai Botumotoli’oluo, Desa Longalo, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, dua pekan sebelumnya.
Sebelum bertemu keluarga, rombongan berziarah ke makam Azkayra dan memanjatkan doa bersama.
Dalam pertemuan tersebut, Wakil Pimpinan II Ponpes Hubulo, Ustadz Ansor Mobilingo, menyampaikan permohonan maaf sekaligus komitmen memperketat pengawasan keselamatan santri.
“Kami hadir membawa rasa penyesalan yang mendalam dan memohon maaf yang setulus-tulusnya atas peristiwa ini. Kami berkomitmen penuh untuk melakukan perbaikan dan evaluasi menyeluruh demi keselamatan para santri ke depan,” ujar Ustadz Ansor.
Ayah almarhumah, Dolot Alhasni Bakung, menyatakan telah memaafkan pihak pesantren.
Namun, ia meminta pengelola menyampaikan kronologi kejadian secara resmi kepada media massa serta memperbaiki standar operasional prosedur (SOP) keselamatan.
“Kami sudah memaafkan dengan tulus. Namun, kami meminta pihak pesantren menerbitkan siaran pers resmi ke media massa yang memuat kronologi lengkap serta permohonan maaf terbuka. Kami juga mendesak agar SOP keselamatan segera diperbaiki agar kejadian memilukan ini menjadi pelajaran berharga dan tidak terulang pada santri lain,” tegas Dolot.
Pesantren Jelaskan Kronologi Kejadian
Dalam pertemuan itu, Kepala Asrama Putri Ponpes Hubulo, Ustadzah Wirnawati Hunawa, menjelaskan bahwa kegiatan rekreasi tersebut merupakan inisiatif para santriwati yang telah mendapat persetujuan pimpinan melalui rapat internal.
Sebanyak 41 santriwati kelas I MTs mengikuti kegiatan tersebut. Mereka didampingi dua ustadzah, yakni Umi Nita Laya dan Umi Nur Rahmawati Paneo, serta 13 santriwati senior dari kelas IV, V, dan VI. Wirnawati menyusul kemudian karena menghadiri acara keluarga.
Umi Nita Laya menjelaskan, sekitar pukul 11.00 WITA, para pendamping mulai meminta santriwati menghentikan aktivitas berenang dan naik ke daratan karena waktu salat Jumat semakin dekat. Sebelum meninggalkan sungai, beberapa santriwati meminta untuk difoto.
“Anak-anak minta difoto. Saya memotret kelompok sebelah kiri dan tengah satu per satu. Almarhumah awalnya berada di kelompok kiri yang sudah difoto dan diminta naik. Namun, tanpa disadari, ia berpindah menuju kelompok kanan yang masih berada di dalam air,” kenang Umi Nita.
Saat Umi Nita berbalik menuju tempat penyimpanan barang, para santriwati berteriak memberitahukan bahwa seorang rekannya tenggelam.
Ketika pendamping kembali ke sungai, rekan-rekan korban telah mengevakuasinya ke tepi. Pendamping kemudian melakukan pertolongan pertama berupa resusitasi jantung paru (RJP). Namun, korban sudah tidak sadarkan diri sebelum dibawa ke rumah sakit.
Pertemuan tersebut ditutup dengan doa bersama dan kesepakatan untuk memperbaiki tata kelola keselamatan di lingkungan Ponpes Hubulo agar kejadian serupa tidak terulang.












