Boltim, aksaranews.com — Pasca purna tugas sebagai Penyelenggara Pemilu di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Jamal Rahman Iroth kembali aktif di panggung kesenian.
Kali ini, J R Iroth berkolaborasi bersama seniman muda Rifki Sagay dan Maulana Tanpanama. Dalam waktu dekat mereka akan merilis video musikalisasi puisi, bertema Kemerdekaan.
Dalam rilis yang diterima media ini, Jumat (4/8/2023), Jamal mengatakan, Interpretasi makna “merdeka” diwujudkan dalam lirik-lirik kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Dampak destruktif dari kegiatan eksploitasi kekayaan alam ditandai dengan munculnya bencana ekologis, banjir bandang, tanah longsor, menurunnya kualitas udara, serta pemanasan global yang terus berlangsung, digambarkan dalam larik-larik puisi penuh metafora;
“Coba tanya bagaimana perahu-perahu Sudi melayari pagi/ jika samudra telah kau racuni/ jika teluk juga pantai sudah lama terperangkap senja muram/.” penggalan puisi berjudul Merdeka Adalah.
Intuisi kepenyairan Jamal Rahman Iroth seolah menangkap kegetiran yang sedang melanda alam semesta, akibat ulah manusia dalam memanfaatkan alam secara egois bahkan cenderung mengabaikan nasib kelangsungan hidup ekosistem ini.
Kemudian perayaan-perayaan kemerdekaan dari tahun ke tahun sepertinya tak membersitkan kerisauan akan ancaman bencana besar bisa terjadi setiap saat. Sehingga arti kemerdekaan menjadi sesuatu yang mustahil untuk bisa diwujudkan;
“Sungguh merdeka adalah/ jika kau leluasa menahan laju gelombang/ dan menawar asin laut/” tulis penggalan puisi berjudul Merdeka Adalah.
Berikut aksaranews.com tampilkan secara utuh tiga buah karya puisi ditulis oleh Jamal Rahman Iroth, dengan tema kemerdekaan;
MERDEKA ADALAH
tolong hari ini jangan tanya arti merdeka
jika kau maksud sekadar kibar bendera
jika warna sejarah setara selembar kain
bisa kau pakai sebagai ikat kepala
sekaligus menyeka amis ketiak
coba tanya bagaimana perahu-perahu
sudi melayari pagi
jika samudera telah kau racuni
jika teluk juga pantai sudah lama takluk
terperangkap senja muram
lalu dengan apa kau kabarkan damai
jika embun enggan membelai pohon-pohon
jika sejuk malam telah lama tinggalkan desa
menyisakan bekas lebam di sekujur jiwa
selebihnya dengan panji-panji dikibarkan itu
sanggupkah kita meringkus sesal dan kaku
sedang jalan-jalan takluk pada gerimis batu
sungguh merdeka adalah
jika kau leluasa menahan laju gelombang
dan menawar asin laut
Karya: Jamal Rahman Iroth













