Kuburan Batu Kamar Binuanga #1: Perawatan Situs yang Tak Serius

Kuburan Batu Kamar Binuanga sisa-sisa peradaban tua yang terdapat di Pulau Sulawesi, Indonesia. Tepatnya di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. (Foto: aksaranews.com/Mahmud Mokoginta)

Pagi itu cuaca Kota Kotamobagu begitu cerah. Matahari terus memancarkan sinarnya. Sabtu 7 Januari 2023, Saya Ilham dan Anjas telah siap bergegas menuju Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara. Kami bertiga berangkat dari Kotamobagu menuju Desa Toraut sekira Pukul 06.30 Wita. Tiba di Desa Toraut pukul 10.30 wita. Sebelumnya kami terlebih dahulu singgah di Dumoga III untuk melayat di rumah duka. Keponakan yang sejak kecil bersama saya kini telah dipanggil sang maha kuasa, Tuhan YME.

Di Desa Toraut, setelah beristirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan sekira pukul 10.50 wita ditemani Jefri dan kawan-kawan pegiat alam yang tergabung dalam komunitas pecinta alam dan satunya lagi Enal, kawan saya dari Dumoga.

Dengan perlengkapan seperlunya dan setelan profesional, Jefri penuh semangat menuntun beberapa teman menikmati perjalanan diantara perkebunan warga dan memasuki hutan belantara Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) untuk menuju Kuburan Batu Kamar Binuanga sisa-sisa peradaban tua yang terdapat di Pulau Sulawesi, Indonesia. Tepatnya di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Sekian langkah sempat terhenti untuk istirahat mengumpulkan kembali energi dan karena beberapa teman mulai kelelahan. Serta adanya aliran sungai yang harus disebrangi dimana harus berhenti untuk melepas sepatu tracking agar tidak basah.

Jefri adalah warga desa yang ada di sekitar Taman Nasional yang menjadi pemandu para wisatawan. Seolah setiap perjalanan nampak mudah baginya karena sudah terbiasa serta memang basicnya sebagai Pecinta Alam. Jadi kemungkinan besar dia sangat menikmati hal tersebut.

Dengan berjalan sambil menunggu teman-teman yang tertinggal langkah, jefri mengisi setiap kantong penasaran teman-teman yang selalu penuh tanya dengan jawaban yang begitu baik dan dimengerti sembari sambil bercanda. Mungkin itu adalah salah satu teknik dalam membuat nyaman teman-temannya.

Cukup panas untuk sebuah perjalanan cuaca dikala itu, Awal Januari 2023. Matahari bersinar dengan teriknya. Paparannya bisa membuat seluruh pejalan bermandikan keringat. Kerapatan vegetasi hutan yang teduh selalu menjadi iming-iming jefri dan beberapa temannya.

Dokumentasi Perjalanan

Jelas jefri tidak bisa memastikan berapa lama lagi perjalanan akan mulai memasuki hutan karena setiap langkah dan tenaga sangat bervariasi antara satu dan lainnya.

Dengan menawarkan jasa mengangkut sebagian beban teman-temannya, beliau masih terlihat konsisten dengan stamina yang nampak sejak sedari awal.

Hampir 5 Km jarak tempuh untuk bisa mencapai hutan lebat dan mulailah terasa teduh perjalanan itu. Julangan pohon yang tinggi, nyanyian burung, riak sungai seakan selalu menyambut setiap pengunjung hutan ini.

Berulang kali langkah terhenti menyusuri hutan landai yang indah dengan penuh keragaman hayati ini namun tak menyurut semangat untuk melihat sisa peradaban tua yang terdapat didalamnya.

4 jam estimasi perjalanan dan tibalah ditempat tujuan. Seketika lelah terlupakan dan kekaguman menepis sakitnya kaki yang menempuh jarak jauh.

Kami pun tiba di Kuburan Batu Kamar Binuanga sekira pukul 15.30 wita, sore.

Mahakarya sebuah situs tebing batu berkamar yang merupakan bukti peradaban lampau dengan usia yang sangat menabjukan. Nampak sebagian situs tertutup semak belukar dan beberapa pohon yang mulai tumbuh dengan potensi kerusakan akibat alam.

Beberapa teman jefri yang ikut dalam perjalanan ini nampak membersihkan rerumputan yang tumbuh dengan alat seadanya dan sesuai kemampuan jangkauan.

Jefri dan teman-temannya yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Alam dipercayakan oleh Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone untuk memandu setiap wisatawan yang akan mengunjungi tempat ini.

Terkadang mereka juga yang membersihkan rerumputan yang perlahan menutupi bagian bagian situs. Rencananya akan dibersikan keesokan hari setelah melewati malam yang panjang diantara hutan lebat dan didepan Kuburan ini. Namun karena keterbatasan fasilitas dan peralatan hingga terurungkan niatan tersebut.

Proses Pembersihan situs Batu Kamatr Binuanga oleh kawan-kawan pecinta alam (Foto aksaranews.com/Mahmud Mokoginta)Jefri bercerita, selain Petugas Balai, dia dan teman-temannya yang akan membersihkan tempat ini. Namun belakangan tidak nampak lagi dibersihkan. Terakhir kali Januari 2022 jefri dan kawan-kawan membersihkan. Mungkin sekarang hanya mereka yang melaksanakan tugas itu. Petugas dari balai entah kemana, cerita Jefri.

Malam itu jefri menceritakan banyak kisah tentang pengalamannya dalam memandu pengunjung lokal maupun mancanegara. Ada banyak kisah menggelitik yang dapat dinikmati dalam kisah-kisahnya.

Konfirmasi terpisah dari bapak Mokoagow pihak Balai menyatakan bahwa pihak balai masih turut membersihkan situs tersebut dan tidak pernah membiarkan. Setiap Tahun dipantau dan diperhatikan. Tidak ada yang berani merusak situs tersebut karena akan terjerat pidana, begitu uraiannya dalam pesan singkat WhatsApp.

Selain itu, Mokoagow juga turut mempromosikan keindahan situs yang lain seperti Luod, Tumpa, Kosinggolan yang mungkin bisa dikunjungi dilain waktu. Ada juga beberapa info temuan yang masih bersifat belum public, mungkin karena satu dan lain alasan. Namun intinya yang bisa ditangkap dalam komunikasi tersebut ada kabar gembira tentang penemuan baru terkait situs sisa-sisa peradaban.

Namun begitu, Kuburan Batu Kamar Binuanga yang merupakan sisa-sisa peradaban tua yang terdapat di Pulau Sulawesi terbilang sangat langkah. Perawatan Situs yang terbilang tak Serius ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita dan Pemerintah setempat. Pertanyaan pun muncul, Kuburan Batu Kamar Binuanga Jejak Peradaban Tua yang dilupa atau disengaja?…

Penulis: Mahmud Mokoginta
"Mau Berita Terbaru Lainnya dari aksaranews.com? Yuk Follow Kami di Google News"