Dorong Kemajuan Perkembangan Wilayah, Pemprov Malut Diminta Lakukan Akselerasi Pembangunan Desa Mandiri

Sekjen Kemendes PDTT RI, Taufik Madjid, S.Sos, M.Si (AKSARA/Foto: Sadan G. A. Pattisahusiwa)

Ternate, Aksaranews.com – Guna percepatan peningkatan tingkat kesejahteraan masyarakat di Desa yang berdampak baik pada kemajuan dan perkembangan suatu wilayah, maka akselerasi (percepatan) pembangunan Desa Mandiri perlu dilakukan.

Demikian seperti yang dikatakan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemendes PDTT RI), Taufik Madjid kepada sejumlah awak media usai kegiatan dialog publik bersama mahasiswa yang berlangsung pada, Sabtu (07/11/2020) baru-baru ini.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Malut perlu melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten dan Kota untuk mendorong percepatan pembangunan Desa dan Perdesaan

“Yang menjadi PR (Pekerjaan Rumah) bagi saya dan Pemerintah Daerah (Pemda) adalah mendorong agar adanya Desa Mandiri di Provinsi Maluku Utara. Dan menjadi contoh pailot yang bisa di replikasikan untuk desa-desa yang lain di Indonesia, sebab kita punya karakteristik wilayah yang cukup istimewa dan di dukung dengan sosial capital yang bagus serta afirmasi dari Pemda,” ujar Taufik Madjid

Lebih lanjut ia jelaskan mengenai target akselerasi peningkatan tingkat kesejahteraan masyarakat di Desa, dimana hal tersebut dianggap sebagai poin besarnya.

“Kita harus online apa yang menjadi prioritas program dari Pemerintah Pusat untuk diwujudkan dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama,” jelasnya

Dia pun menerangkan sedikitnya tiga indikator yang merupakan acuan untuk melihat perkembangan Desa mandiri. Pertama, indeks ketahanan ekonomi. Bahwa instrumen ekonomi adalah hal wajib yang harus di akses oleh masyarakat desa.

“Misalkan pasar, Bumdes, system keuangan inklusif yang hadir, pasar desa yang gampang diakses yang belum dibangun harus dibangun menggunakan dana desa atau bantuan dari Pemerintah,” terangnya.

Selanjutnya kata Taufik, indeks ketahanan social yang paling tidak seimbang antara pembangunan kewilayahan dan pembangunan kewargaan.

“Jadi aspek kewilayaan penting diambangi disatu sisi dengan pembangunan kewargaan. Intinya social capital kita jaga, nilai-nilai kegotong royongan, ada kearifan local maupun yang lainnya untuk menjadi basis dari indeks social,” katanya.

Kemudian, indeks ketahanan lingkungan yang berorientasi kepada daya tahan desa terhadap ancaman lingkungan, dimana perlunya penjagaan sistem sehingga pembangunan Desa menjadi pembangunan yang berkelanjutan.

“Kita sementara sedang mendorong di Kementrian desa namanya estijus desa. Melendingkan nilai-nilai global pada desa. Jadi 17 tujuan pembangunnan global berkelanjutan menjadi 18 dengan kearifan lokal yang menjadi estijus desa,” ungkapnya.

Ditambahkannya pula, kerjasama, kolaborasi dan sinergitas antar Desa juga diperlukan untuk mewujudkan Desa mandiri agar masyarakat semakin sejahtera.

“Poinnya bagaimana masyarakat lebih menjadi sejahtera. Malut punya potensi besar tinggal diperkuat dengan sentuhan-sentuhan untuk diberikan. Tentu kerjasama antar desa, kolaborasi dan sinergi terus ditingkatkan supaya kriteria yang hampir ke Desa Mandiri cepat kita wujudkan. Nilai-nilai itu yang harus direkognisi (diakui) untuk Maluku Utara,” tambah Taufik Madjid.

Peliput: Sadan | Editor: Redaksi

"Mau Berita Terbaru Lainnya dari aksaranews.com? Yuk Follow Kami di Google News"