Diskusi publik, usul tokoh BMR jadi Pahlawan Nasional

  • Whatsapp
Diskusi publik tokoh BMR perlu diusulkan jadi Pahlawan Nasional (Foto: Mahmud/aksaranews.com)

Kotamobagu, aksaranews.com Pusat Studi Sejarah Bolaang Mongondow Raya (PS2BMR) menggelar diskusi dengan tema Pahlawan Nasional, Nasionalisme Bolaang Mongondow Raya.

Diskusi tersebut dilaksanakan di warkop padepokan graha pena, sinindian, Kota Kotamobagu, Minggu (12/09/2021).

Ketua PS2BMR Murdiono Mokoginta hadir bersama pemateri ketua GP Ansor KK Hamri Mokoagow, Ketua Pemuda Muhamadiyah Amaluddin Bahansubu, Pemred Harian BMR Fauzy Permata dan Kadis Sosial KK Noval Manoppo.

Dalam diskusi, beberapa tokoh BMR akan diusulkan menjadi pahlawan nasional misalnya A.Y Mokoginta, Nurdina Manggo, Loloda Mokoagow, dan lainnya.

Murdiono Mokoginta menjelaskan bagaimana historis para pejuang tanah totabuan yang hingga hari ini tak ada satupun yang dijadikan sebagai pahlawan Nasional.

Sehingga menurutnya, perlu ada tokoh BMR yang menjadi pahlawan nasional dari sekian banyak pahlawan nasional yang ada di pulau Sulawesi maupun Provinsi Sulawesi Utara.

“Hal inilah menjadi pemantik dan rencana pembentukan panitia yang nanti mengkaji tokoh-tokoh yang diusulkan untuk dijadikan prioritas sebagai pahlawan nasional,” ujar Murdiono.

Senada ketua GP Ansor Kota Kotamobagu Hamri Mokoagow mengingatkan dalam diskusi tersebut siapapun yang nantinya yang ditokohkan sebagai pahlawan nasional maka perlu dukungan dari masyarakt luas.

“Siapapun tokoh itu, harus sama-sama kita suport karena hari ini bukan lagi tentang marga, keturunan, leluhurnya siapa, tapi harus ada pahlawan dari bolaang mongondow,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Dinsos Kota Kotamobagu Noval Manoppo mengatakan sebagai pihak pemerintah dirinya akan terus mensuport dengan upaya membantu usulan dalam diskusi kepada pemerintah.

karena kata Noval, selama ini tidak pernah ada usulan tokoh BMR untuk dijadikan pahlawan nasional. Jika ada maka akan ada tahapan dan proses yang perlu dilalui dengan syarat-syarat tertentu.

“Perlu ada tim yang akan mengkaji tokoh tersebut. Yang dikaji ada banyak misalnya harus 70% kontribusi perjuangan untuk negara 30 % sisanya tentang pendidikan, keluarga dan sebagainya. Nantinya akan jadi biografi,” terang Noval.

Pewarta: Mahmud | Editor: Redaksi

Pos terkait