Boltim, aksaranews.com – Ada yang menarik dari debat publik ke III calon bupati dan wakil bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) yang di gelar di Novotel Manado, Rabu (25/11/2020) malam.
Program unggulan dari pasangan nomor urut 1 Amalia Ramadhan S. Landjar dan Uyun Kunaefi Pangalima yakni 1 rumah 1 sarjana masih menjadi tanda tanya bagi kedua paslon nomor urut 02 maupun nomor urut 03.
Paslon nomor urut 02, Sam Sachrul Mamonto selaku calon bupati menyampaikan sesuai amanat UU 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional mengamanatkan anggaran pendidikan 20 persen dari total APBD, yang kemudian di breakdown dalam rumus pengelolaan anggaran daerah.
“Yang ingin saya tanyakan adalah, jika mengacu pada APBD 2021 hanya ada Rp.500 miliar anggaran kita, nah bagaimana cara bapak ibu sekalian mensiasati hal ini agar sesuatu hal wajib yakni urusan pendidikan sesuai amanat UU 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah dapat tercover.”
“Artinya saya ingin bertanya serius kepada paslon nonor urut 1 soal, 1 rumah 1 sarjana dengan minimnya anggaran di tahun 2021,” tanya Sachrul Mamonto.
Amalia Ramadhan S. Landjar calon bupati dari nomor urut 01 menjawab, sesuai amanat UU 23 tahun 2003 memberikan 20 persen untuk pendidikan, nah ini jelas bahwa program unggulan dari AMA-UKP 1 rumah 1 sarjana.
Menurut Amalia, Sejak debat pertama dan kedua dirinya telah menjelaskan ini dan bukan hanya ini saja, kata Amalia di dalam program 1 rumah 1 sarjana ia akan menambahkan stimulus untuk memberikan beasiswa selama 8 semester, karena memang jelas kebutuhan dasar masyarakat adalah pendidikan.
“Pendidikan adalah kebutuhan dasar seluruh umat manusia, sehingga tak hanya S1, kami juga akan menambahkan stimulus bagi sarjana S2 dan S3, karena pendidikan itu untuk kita semua sebagai dasar pengembangan sumber daya manusia,” ujar Amalia Landjar.
Calon wakil bupati Uyun Kunaefi Pangalima menambahkan, selain penganggaran APBD, pihaknya akan melibatkan perusahaan-perusahaan yang ada di Kabupaten Boltim dalam bentuk Corporate Social Responcibility (CSR) untuk turut serta dalam pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan.
“Kami kira cukup Rp 10 miliar untuk 1 tahun. Kalkulasinya adalah tidak semua 28 ribu rumah dalam setahun anaknya masuk perguruan tinggi, tetapi kita akan lihat dari faktor kelulusan SMA,” ucap Uyun Pangalima.
Sementara Paslon nomor urut 03, Suhendro Boroma menjawab pertanyaan Paslon nomor urut 02, yang mana sesuai amanat UU 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional adalah sebuah mandatori baik dari APBN, APBD Provinsi maupun Kabupaten Kota suatu kewajiban mengalokasikan 20% untuk pendidikan yang tak bisa ditawar lagi.
Menurut Suhendro, di Kabupaten Boltim berbicara pendidikan yang terpenting adalah pendidikan sejak SD dan SMP karena ini berkaitan langsung dengan Indeks pembangunan manusia (IPM) di Kabupaten Boltim yang berada di urutan 14 se Sulawesi Utara dan nomor 4 di Bolmong Raya.
“Jadi fokus pelayanan pendidikan SD dan SMP saya kira harus disitu karena SMA/SMK adalah kewenangan provinsi dan sarjana tidak diatur spesifik kewenangan dari siapa, tapi boleh memberikan beasiswa boleh juga memberikan bantuan pendidikan dimana program kami tak hanya beasiswa S1, di program kami ada beasiswa s2 dan s3,” ucap Suhendro.
Lebih lanjut kata Edo sapaan akrab Suhendro Boroma, dirinya menginginkan Kabupaten Boltim selama 5 tahun kepemimpinanya setidaknya ada 5 doktor yang dihasilkan di Boltim dan setidak-tidaknya ada 25 magister yang diprogram secara khusus yakni beasiswa.
“Nah beasiswanya bersifat kualitatif, bukan pemerataan karena program beasiswa itu intinya adalah siapa yang pintar dan tidak mampu bukan siapapun yang ia tidak mampu sekolah kemudian diberikan beasiswa, saya kira itu kurang pas. Beasiswa prinsipnya orang yang pintar dan tidak mampu itulah diberikan beasiswa,” terang Boroma.
Usai mendengar jawaban dari masing-masing paslon, Cawabup nomor urut 02 Sachrul Mamonto menanggapi dengan memberikan pernyataan yang kurang memuaskan dimana yang dirinya tanyakan soal anggaran untuk program 1 rumah 1 sarjana, menurutnya tidak terjawab.
“Jadi sebenarnya yang saya tanyakan adalah teknis perumusan APBD kemudian seperti apa, ambil dari mana dan pos dari mana untuk anggaran sebesar itu. Sementara sudah saya jelaskan anggaran tahun depan untuk pendidikan hanya berkisar Rp. 40-50 miliar per tahun. Jika ada 28 ribu rumah dan disekolahkan 1 rumah 1 sarjana ini merupakan sesuatu yang impossible menurut saya, tidak mungkin,” ucap Sachrul Mamonto.
Berbeda dengan pasangannya, calon wakil bupati nomor urut 02 Oskar Manoppo justru memuji visi misi kedua paslon lawannya di bidang pendidikan, namun dirinya mengingatkan untuk tidak jumawa karena program akan jalan sesuai keuangan daerah yang mana sesuai APBD yang sudah ada.
“Intinya apapun program yang disampaikan baik paslon 01, 03 baik semua. Secara konsep visi misi bagus semua. Intinya adalah ada uang proses berjalan, artinya kita tidak bisa berandai-andai bahwa ini akan jalan serba instan, namun butuh anggaran dan APBD itu berdasarkan kemampuan keuangan daerah,” tutup Oskar mantan Sekda Boltim ini.













