Salurkan Hak Suara di TPS 1 Desa Togid, Sehan Lanjar Nilai Demokrasi Mengalami Degradasi

Sehan Landjar usai menyalurkan hak suaranya di TPS 1 Desa Togid, Rabu (09/12/2020) siang tadi. (Foto Istimewa)

Boltim, aksaranews.com – Calon wakil Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) nomor urut 1, Sehan Salim Salim Landjar SH, Rabu (09/12/2020) siang tadi menyalurkan hak suaranya sebagai warga negara Indonesia dan juga sebagai calon wakil Gubernur Sulut di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 1 Desa Togid, Kecamatan Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Provinsi Sulut,

Sehan Landjar yang juga merupakan Bupati Boltim ini didampingi Istri tercinta Ny. Nursiwin Landjar Dunggio SAP yang juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulut, menyalurkan hak pilihnya pada pemilihan Bupati dan wakil Bupati Boltim dan pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur Sulut.

Keduanya berangkat dari kediaman rumah dinas Bupati Boltim di Desa Togid tak jauh dari lokasi TPS 1 pada pukul 11.11 wita. Mengenakkan kemeja berwarna biru bergaris putih, Sehan Landjar bersama istri berdampingan melakukan pencoblosan dipandu petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).

Usai menyalurkan hak pilihnya, kepada sejumlah awak Media, Sehan Landjar mengatakan, soal pesta demokrasi yang telah diperjuangkan pendahulu yang seharusnya dijaga dan dirawat agar melahirkan pemimpin yang punya moral terhadap republik ini mulai mengalami degradasi.

“Sebenarnya saya tidak ada harapan, yang ada harapan itu kekecewaan karena nilai demokrasi yang diperjuangkan sejak tahun 1998 itu justru dirusak, disamping keterlibatan kandidat yang tidak punya moral dan tidak memahami, bahkan saya anggap pilkada ini adalah pesta korupsi terbesar,” ucap Sehan Landjar.

Ia juga menyentil soal penyelenggara pemilu yakni Badan pengawas pemilu (Bawaslu) yang dalam regulasi pengawasan harus diperkuat karena saat ini Bawaslu kelihatan Mandul dan tidak kerja maksimal sehingga terjadi kecurangan yang masif.

“Undang-undang tentang pengawasan, Bawaslu itu harus diperkuat. Jadi bawaslu itu kelihatannya kerja tidak maksimal. Jadi begitu masif kecurangan, Bawaslu itu tutup mata. Bawaslu sebagian besar jadi pemain dan seharusnya semakin lama semakin baik. Bukan soal siapa kalah menang tapi harus melahirkan pemimpin yang tidak kotor, yang bukan mengandalkan money politic. Jadi masih banyak terjadi model perebutan kekuasaan kemudian dengan tipikal dua penindasan ala komunis dan kapitalis,” jelas Sehan Landjar.

Disinggung soal peluang kemenangan, Ia optimis akan unggul dari dua kandidat lainnya di Kabupaten Boltim paling tidak diatas 60 persen suara, dan di 10 Kabupaten/Kota yang tersebar di Sulut.

“Kemungkinan 6o persen, kita optimis menang di 10 kabupaten/kota. Kalau kita kalah ada sesuatu yang aneh. CEP-Sehan kalah itu berarti ada sesuatu yang aneh. Entahlah apakah kita dapat buktikan atau tidak, tapi kenyataan di lapangan selama kita kampanye itu, kandidat paling diinginkan rakyat adalah CEP-Sehan bahkan hingga subuh mereka tunggu berbeda dengan kandidat lain mempresure lewat SKPD,” beber Eyang.

Pewarta: Riswan | Editor: Redaksi

"Mau Berita Terbaru Lainnya dari aksaranews.com? Yuk Follow Kami di Google News"