Alfian dan Rumah yang Gugur di Tengah Badai Pilkada Boltim

Alfian Mamonto (kiri) dan Foto bersama dengan Calon Bupati Boltim Sam Sachrul Mamonto (tengah), Istri Popi Pandoi (kanan)

Pagi itu, Rabu, 16 Oktober 2024, di Desa Motongkad Tengah, Kecamatan Motongkad, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), suasana mendung tampak menambah kelabu suasana hati Alfian Mamonto.

Di depan rumahnya, pria berusia separuh abad itu sibuk membongkar papan dan seng yang selama ini menaungi keluarganya.

Namun, pembongkaran ini bukan karena rumahnya rusak atau tidak layak huni, melainkan karena persoalan politik.

Perbedaan dukungan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 menjadi pemicu utama. Alfian, seorang buruh kasar yang hidup sederhana bersama istrinya, Popi Pandoi, harus menerima kenyataan pahit. Rumah yang mereka tinggali terpaksa dibongkar atas permintaan pemilik sebagian material bangunan rumah.

“Katanya, karena saya beda pilihan politik,” ujar Alfian dengan nada getir, sembari menurunkan satu per satu dinding dan atap seng dari rumahnya.

Perbedaan dukungan politik dalam Pilkada ini memang memunculkan ketegangan di banyak tempat.

Di Boltim, situasi menjadi lebih rumit ketika hubungan kekeluargaan ikut terlibat.

Alfian menceritakan, permasalahan ini bermula ketika ia bertemu Witarsa Mamonto, kerabat yang membantu menyediakan sebagian material untuk membangun rumahnya.

“Saya hanya menanyakan soal tanah yang sudah saya beli, tiba-tiba disuruh bongkar rumah. Dia bilang, sebagian material bangunan itu miliknya, dan karena saya tidak mendukung calon yang sama, maka rumah itu harus dibongkar,” katanya.

Alfian tak banyak protes. Demi menjaga hubungan baik, ia memilih membongkar rumahnya sendiri, meski tahu risiko yang akan dihadapi: harus memulai dari awal tanpa tempat berteduh.

Namun, di balik tragedi pembongkaran rumah ini, secercah harapan muncul. Sam Sachrul Mamonto, Bupati Bolaang Mongondow Timur yang juga calon bupati boltim di Pilkada 2024, yang kebetulan mengetahui kejadian tersebut, langsung turun tangan.

“Saya melihat rumah Pak Alfian yang sudah dibongkar, dan ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Sachrul Mamonto.

Dengan nada tenang namun tegas, Ia menyampaikan solusinya.

“Bongkar saja rumahnya, kembalikan materialnya. Nanti saya akan bantu bangun rumah baru. Ini mungkin memang rezeki dari Allah untuk Pak Alfian dan keluarganya.”

Bagi Alfian dan istrinya, bantuan ini seperti angin segar di tengah tekanan yang mereka hadapi.

Calon Bupati Sachrul yang turun langsung ke lokasi dianggap membawa kelegaan dan pengharapan baru.

“Alhamdulillah, kami bersyukur. Tidak menyangka akan ada bantuan dari Pak Bupati. Ini memang sudah rezeki kami,” kata Alfian dengan wajah yang mulai kembali tenang.

Cerita Alfian Mamonto hanyalah salah satu dari sekian kisah getir akibat perbedaan politik di masa Pilkada.

Meski terlihat sederhana, kejadian ini mencerminkan betapa tajamnya perbedaan pilihan politik bisa memengaruhi hubungan sosial, bahkan antar keluarga.

Dalam situasi seperti ini, kebijaksanaan para calon pemimpin daerah sangat diharapkan, agar perbedaan tidak berujung pada perpecahan di tengah masyarakat.

Di Boltim, Pilkada menjadi ajang perebutan suara yang kerap kali memanas di tingkat akar rumput.

Namun, seperti kata Alfian, “Politik itu sementara, tapi keluarga dan hubungan baik harus tetap terjaga.”

Sebuah pesan sederhana, namun penuh makna, di tengah dinamika politik yang tak jarang membuat retak persaudaraan.

"Mau Berita Terbaru Lainnya dari aksaranews.com? Yuk Follow Kami di Google News"