Sebuah testimoni hidup sehat ala Jamal Rahman

Health, aksaranews.com Memori saya masih menyimpan rekaman kondisi kesehatan beberapa kawan seniman. Dengan berbagai penyebab, ada yang sakit kemudian terbaring dalam waktu lama, ada tetap produktif, dan ada terpaksa berhenti berkarya, bahkan pergi meninggalkan kita.

Penyebabnya pola hidup, pola makan dan mungkin juga prinsip hidup masing-masing. Tentu terkait prinsip ini kita saling menghargai.

Teringat pesan seorang guru, bahwa seniman itu harus bisa mengolah rasa dan mengolah raga. Agar bisa produktif berkarya, seniman harus sehat fisik dan psikis. Meskipun standar sehat masing-masing kita tentu berbeda. Ini buka soal gemuk, kurus atau langsing.

Bagi yg berkenan membaca, saya ingin sharing (tidak bermaksud menggurui) anggaplah ini berbagi cerita, teman-teman boleh setuju dan boleh juga tidak, bebas tentunya.

Praktis saya mulai berkesenian di jalanan sejak tahun 2000. sebelumnya sejak 1998 menjalani kehidupan aktivis mahasiswa yang pola tidur, makan dan mandinya sangat tidak teratur.

Sejak tahun 2000 saya mengamen, berpuisi, dan berteater di jalanan. Tempat kost hanya jadi tempat cuci, menyimpan baju, dan sedikit buku. Selebihnya saya hidup menggelandang dan tidur di mana saja.

Makan apa saja yang tersedia. Namun paling sering makan mie instan campur nasi, minum segala minuman yang saya temui. Syukur, di masa-masa “no maden” itu saya jarang sakit, mungkin karena usia masih 20-an, daya tahan masih bagus.

Namun saat usia jelang 30 tahun, saya mulai merasakan kemampuan fisik mulai menurun, gampang masuk angin, sakit perut, dan lain-lain.

Di usia tiga puluh itulah saya mulai berpikir untuk menjalani hidup sehat, namun itu baru sebatas berpikir, prakteknya masih merokok, minum alkohol, tidur dan makan sembarangan.

Tahun 2011, Usia 31 adalah momentum saya membangun hidup bersama seseorang, dan berkomitmen untuk tidak minum alkohol, tidak merokok. Tapi pola makan masih belum ketemu rumus yg pas. Beberapa kali ikut diet namun BB kembali naik turun.

Sampai pada klimaksnya tahun 2019 mencapai 75 Kg. Jika menggunakan rumus sederhana, dengan tinggi 154 cm, maka saya kelebihan berat badan lebih dari 20 Kg. Plus kondisi fisik mudah lelah, gampang sakit, dan kolestrol serta asam urat tinggi.

Tahun 2018 Arung (anak pertama saya) lahir. Dalam hati mulai cemas dan risau. Arung lahir saat usia saya 38 tahun. Artinya ketika arung Dewasa (umur 20-an), saya sudah 58 tahun. jika tidak berupaya menjalani pola hidup sehat dari sekarang, dan seterusnya saya tak ingin membayangkan, kekhawatiran akan kesehatan kelak.

Akhirnya berkomitmen dengan diri sendiri, untuk membangun lagi pola hidup sehat. Insya Allah ini sebuah ikhtiar yg baik dan diridhoi Allah SWT. Salam sehat, salam rindu selalu teman-teman.

"Mau Berita Terbaru Lainnya dari aksaranews.com? Yuk Follow Kami di Google News"