Kejari masuk Desa, bahas hoaks dan ujaran kebencian di medsos hingga sanksinya

  • Whatsapp
Sangadi Tombolikat Muhammad Nur Alheid (aksaraphoto)

Boltim, aksaranews.com Seiring meningkatnya pengguna media sosial serta internet, penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian sudah sangat mengkhawatirkan.

Hal ini menjadi perhatian Sangadi Tombolikat Kecamatan Tutuyan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Muhammad Nur Alheid.

Bacaan Lainnya

Dalam sosialisasi peningkatan kapasitas pendidikan paralegal hukum oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kotamobagu di Desa Tombolikat, pihaknya membahas tema mengenai Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)

Menurut Sangadi, dalam diskusi yang dimoderator oleh Kasubsi C Intelijen Kejari Kotamobagu Hindarto Korompot, SH,. menyampaikan masyarakat perlu memahami aturan yang mengatur dalam menggunakan media sosial.

“Masyarakat perlu paham sebelum menyebar kabar atau informasi di dalam media sosial, karena bisa jadi itu hoaks atau ujaran kebencian, dan ada undang-undangya,” ujar Nur Alheid, Rabu 7 Juli 2021.

Kata dia, dalam mengkritik pemerintah masyarakat bisa langsung datang ke kantor secara resmi, dengan kritik yang konstruktif serta membangun bukan beropini di media sosial.

“Banyak sumber masalah dari masyarakat yang muncul dari internet. Ada oknum yang menjelek-menjelekkan orang lain, dari komentar satu ke komentar lainnya. Kami sangat mendukung keterbukaan informasi, bila ada kritik datang ke kantor bukan membuat status atau komentar di medsos,” bebernya.

Sosialisasi oleh Kejaksaan Negeri Kotamobagu kepada masyarakat Tombolikat

Terkait hal tersebut, Kepala seksi Intelijen kejari kotamobagu, Arthur Piri, SH., saat memimpin sosialisasi menyebut diskusi peningkatan kapasitas pendidikan paralegal hukum sangat baik dilakukan di setiap Desa.

Pos terkait