Mufakat perubahan ketiga bahas polemik tambang, Ibas: nyalakan optimisme di ruang publik

  • Whatsapp
Ibas menyampaikan perlu nyalakan sikap optimisme di ruang Publik (foto: Ist)

Boltim, aksaranews.com Pendiri Kawan perubahan Irvan Basri mengatakan diskusi mufakat perubahan ketiga kaum muda inti perubahan di Kotabunan perlu menyalakan optimisme di ruang publik.

Hal ini menurut Ibas sapaan Irvan Basri, pemuda tidak boleh minim kreatif, perlu keaktifan dan progresivitas meski berada pada era pandemi Covid-19.

“Kaum muda perlu menyalakan optimisme di ruang publik, tidak boleh mati gaya di era pandemi. Harus bekerja supertim yang kuat,” ucap Irvan Basri saat diskusi Kawan Perubahan, Sabtu 7 Agustus 2021, malam.

Diskusi dengan tema ‘Polemik Pertambangan dan Hak Ekosob Masyarakat: Belajar Dari Kasus Kotabunan’ ini digelar di dua tempat, sore di aula Kantor Camat Kotabunan dan malamnya dilanjutkan di Warkop D’Katu Tombolikat Selatan.

Ibas menuturkan jika diskusi semacam ini perlu dilakukan sebagai wadah untuk membahas dan memecahkan isu-isu yang tengah hangat di masyarakat

“Diskusi ini adalah ruang belajar kita bersama. Dalam Mufakat Perubahan Ketiga ini kita ingin menggalakkan optimisme di ruang publik,” sebut Irvan.

Ibas menyampaikan perlu nyalakan sikap optimisme di ruang Publik (foto: Ist)

Dia juga menyampaikan, akan menggelar diskusi lanjutan di wilayah Kabupaten Boltim dengan membahas isu-isu strategis di timur totabuan ini.

“Kita masih akan berputar-putar di Boltim, Mufakat Perubahan Keempat mungkin di Desa Buyat atau Molobog,” ungkapnya.

Camat Kotabunan Ahmad Alheid sebagai sebagai pembicara menyampaikan, masyarakat Kecamatan Kotabunan cukup akrab dengan isu-isu tambang. Diskusi yang difasilitasi oleh komunitas Kawan Perubahan ini, kata dia membuktikan sikap kritis mereka.

“Generasi muda di Kecamatan Kotabunan cukup kritis. Contoh kasusnya, mereka langsung mendirikan forum Masyarakat Aliansi Lingkat Tambang (Malintang) ketika ada perusahan tambang yang mulai akan bereksploitasi di wilayah ini,” urainya.

Pemateri dua pemateri lainnya, Rikson Karundeng dan Putri Stevanie Kapoh, masing-masing memaparkan hasil penelitiannya tentang kehidupan tambang. Rikson fokus pada multi dampak tambang hasil penelitiannya di beberapa wilayah tambang. Sedangkan Putri memaparkan tentang peran dan dampak perempuan dan anak di lingkungan pertambangan.

Diskusi berlanjut di Cafe Tombolikat Selatan (foto: Ist)

Andriansa Bonte selaku aktivis Aliansi Malintang pada kesempatan itu mengurai tentang latar belakang dibentuknya forum masyarakat tersebut.

Menurut dia, Aliansi Malintang saat ini berperan untuk menyuarakan keinginan masyarakat lingkar tambang yang tidak sesuai dengan kebijakan perusahan tambang.

“Ada 11 tuntutan masyarakat lingkar tambang yang harus perusahaan di Kotabunan penuhi, ini harga mati,” ucap Andriansa Bonte.

Sementara Muhammad Jabir yang hadir dalam diskusi sempat menyambut baik diskusi yang digelar kawan perubahan. Menurut wakil ketua DPRD Boltim ini, dirinya akan terus mengawal apa yang menjadi tuntutan masyarakat yang ada di lingkar tambang sesuai pada jalurnya.

“Saya akan menjadi orang terdepan dalam menuntut kebenaran. Dengan sikap profesional di garis dan jalur yang benar pula,” tegasnya.

Foto bersama usai diskusi Mufakat kwan perubahan ketiga (foto: ist)

Rifsan Makangiras selaku moderator diskusi mengutarakan, mengangkat tema itu agar masyarakat khususnya para aktivis di lintas komunitas dapat memahami persis seperti apa polemik tambang di masyarakat. “Untuk itu kami hadirkan narasumber-narasumber yang mengetahui kondisi yang ada di Kotabunan,” ujar Rifsan.

Pewarta: Riswan | Editor: Redaksi

Pos terkait